Loading...

Korporasi, Era Baru Buat Petani Indonesia

09:47 WIB | Monday, 02-October-2017 | Editorial, Editorial | Penulis : Pimpinan Redaksi

Presiden RI Joko Widodo telah beberapa kali dalam beberapa kesempatan yang berbeda menginginkan agar para petani kecil bisa membuat korporasi. Dengan korporasi itu skala usahatani menjadi lebih besar dan efisien. Bidang usaha yang dikelola dalam korporasi juga meluas hingga ke pengolahan dan pemasaran produk pertanian. Tujuannya agar petani bisa menikmati nilai tambah dari produk yang dihasilkan dan lebih sejahtera.

 

Dalam usahatani padi, korporasi yang dimaksudkan Presiden bisa dilakukan dengan mengkonsolidasikan lahan-lahan sawah yang dimiliki petani. Kita tahu rata-rata penguasaan lahan petani padi kita di Jawa berkisar 0.35 ha atau 3.500 m2.  Konsolidasi lahan bisa dilakukan dengan membongkar pematang sawah dan memperkuat legalitas administrasi batas sawah milik per petani. Sampai petani tidak ragu tentang batas-batas tanah sawah yang dimiliki.

 

Konsolidasi tanah seperti itu sudah kita temukan di Kabupaten Sukoharjo Provinsi Jawa Tengah. Pengalaman teknis dari konsolidasi lahan di Sukoharjo, batas lahan bisa dilakukan dengan memasang patok permanen yang tidak mengganggu operasional alat mesin pertanian seperti traktor dan combine harvester atau rice transplanter.

 

Batas tanah juga bisa dibuat secara digital berupa batas koordinat yang dikuatkan dengan surat legal tanah. Apapun batas tanah yang dipilih, secara teknis budidaya, pematang sawah dalam skala tertentu masih diperlukan. Terutama agar pengairan dan pemupukan berjalan efektif dan efisien.

 

Lebih dari itu, kelembagaan korporasi milik petani harus dibenahi dan dicarikan yang cocok secara lokalita dan kekinian. Di Kabupaten Boyolali Jawa Tengah ada model korporasi milik petani dalam bentuk koperasi, dengan nama Koperasi Appoli (Aliansi Petani Pertanian Organik Boyolali). Koperasi ini dikelola oleh para profesional dari desa itu yang rata-rata bergelar sarjana. Mereka dapat gaji karena mengelola koperasi ini.

 

Gambaran model korporasi pertanian padi itu bisa kita sebut sebagai era baru petani Indonesia. Selain, para petani tersebut akan tetap bertani padi dengan hasil ekonomi yang lebih menjanjikan, mereka juga punya waktu luang yang lebih banyak. Waktu luang ini bisa mereka gunakan untuk pekerjaan lain. Pemerintah dalam hal ini harus lebih kreatif agar muncul industri-industri di perdesaan atau kegiatan ekonomi lainnya.

 

Tujuanya, agar petani juga bisa mendapatkan pendapatan di luar usaha pertaniannya. Hal ini bisa diwujudkan, bila orientasi pembangunan pedesaan punya rancangan yang jelas, terarah dan terukur untuk menopang dan mensukseskan program korporasi usaha tani yang digagas Presiden Joko Widodo.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162