Loading...

Kreativitas dan Inovasi Penyuluh Muncul dari Mengatasi Masalah Petani di Lapangan

17:46 WIB | Friday, 06-April-2018 | Tips & Santai | Penulis : Ahmad Soim

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat Ir Hendy Jatnika ikut hadir pada peringatan hari jadi penyuluhan pertanian tingkat Propinsi Jabar yang diselenggarakan Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) di Cihea, Cianjur, Jawa Barat (5/4).

 

Tabloid Sinar Tani berkesempatan mewawancari Beliau terkait perkembangan fungsi dan kinerja penyuluh pertanian (PPL) di Jawa Barat. Hendy Jatnika meminta agar para PPL lebih kreativ dan berinovasi serta mampu meningkatkan kontribusinya dalam menyediaan dan kedaulatan pangan di Jawa Barat. Berikut ini petikan wawancara Tabloid Sinar Tani.

 

 

 

Kelembagaan Penyuluhan Pertanian di Jawa Barat berubah menjadi Bidang Penyuluhan yang berada di bawah Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat, apakah kelembagaan baru ini lebih mudah menggerakkan PPL di Jawa Barat?

 

Kita koordinasi dengan kabupaten juga  dengan yang menangani pertanian dan fungsi penyuluhan di propinsi maupun kabupaten, saya kira mudah untuk bersinergi.  Tidak ada permasalahan permasalahan apapun. Kedepannya walaupun sekarang berupa bidang dulu Bakorluh, lalu UPTD  dan menjadi bidang pun fungsinya akan tetap jalan tidak akan berkurang.

 

 

 

Kinerja PPL-nya apakah lebih bagus?

 

Bisa lebih bagus, karena kalau dulu kan di dalam fungsi penyuluhan itu ada substansi pertanianya yang dikelola dinas. Dengan menyatunya fungsi itu malah lebih mudah sinerginya dari pada lembaga penyuluhannya terpisah dengan lembaga pembangunan pertaniannya.  Dengan satu dinas, seperti propinsi Jawa barat sinergitas antara program dan metode penyuluhan itu lebih bagus, karena yang menggerakkan pertanian di lapangan sebetulnya bidang.

 

 

 

Pembiayaan penyuluhannya apakah bisa lebih dicukupi?

 

Saya kira dalam pembiayaan tergantung kebutuhan dan kemampuan, yang penting fungsi pokoknya bisa dijalankan dengan APBN dan APBD.

 

 

 

Bapak tadi mengharapkan agar penyuluh lebih kreatif dan berinovasi, tidak bekerja seperti yang dulu dulu saja, bagaimana mewujudkannya?

 

Sarana yang ada sekarang adalah lomba inovasi di tingkat propinsi tingkat nasional.  Mungkin ada beberapa lomba termasuk inovasi termasuk di Balai Pelatihan Pertanian Cihea Cianjur ini, salah satu widyaiswaranya memenangkan lomba inovasi untuk petrtanian.

 

Kemarin kami bersama petugas POPT juga bisa melakukan inovasi, kreatifitas, replikasi dan perbaikan pengendalian hama tikus dengan burung hantu. Itu dinilai bahwa  inovasi Jawa Barat, meskipun propinsi lain juga ada, tapi  ada inovasi inovasi sehingga Jawa Barat dinilai lebih bagus dari yang lain.

 

Penyuluh kita juga diharapkan melakukan inovasi dan kreativitas, memang salah satu cara memotivasinya adalah ada  lomba, ada penghargaan dari pimpinan, pemprov dari gubernur, tapi intinya kreativitas itu tumbuh dari mengatasi permasalahan yang terjadi di lapangan,  masalah hama, produktivitas, mungkin penyebabnya, mungkin banyak hal yang perlu dirubah untuk  lebih baik, mungkin perlu ada inovasi.

 

 

 

Lomba kreativitas dan inovasi ini banyak diikuti oleh petugas dinas kab. Saya harapkan fungsional yang lebih banyak. Karena fungsional itu lebih banyak tahu permasalahan lapangan. Yang perlu ditindaklanjuti untuk mengatasi masalah. Untuk mengatasi masalah itu kalau sifatnya copy paste atau pola pola lama nggak bisa lagi, mungkin perlu inovasi dan sebagainya.

 

 

 

Apa lagi harapan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat kepada  para penyuluh?

 

 

 

Tentunya kontribusinya ditingkatkan lagi, untuk mengejar atau untuk memenuhi target target kita, seperti komoditas strategis, adanya kedaulatan pangan. Itu kan peran peran penyuluh, termasuk dalam peningkatan kesehatan masyarakat, seperti stunting. Itu memang bukan ranahnya pertanian, tapi kalau pertanian berkembang tidak akan terjadi stunting. Sumber karbihidrat kita banyak di lapangan, juga protein dan vitamin. Kenapa sampai terjadi? Ranah pengelolaan stuntingnya mungkin dinas kesehatan tapi kalau dirunut kehulunya mungkin karena produksinya dan harganya. Itu penggeraknya kan penyuluh. Som

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162