Loading...

Kurangi Efek GRK dengan Teknologi Biodekomposer

09:12 WIB | Thursday, 14-September-2017 | Iptek, Teknologi | Penulis : Gesha

Kepala Balitbangtan, M. Syakir (kanan) bersama wakil ketua komisi iv DPR RI, Herman Khaeron

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, saat ini tengah fokus dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas pertanian. Untuk diketahui, kontribusi emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian termasuk gambut adalah sekitar 13-17%. 

 

Demikian diungkapkan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, M Syakir saat Seminar Nasional Perubahan Iklim di Kampus Pertanian Cimanggu, Bogor, Rabu (13/9).

 

Dia mencontohkan, saat pembukaan lahan dengan pembakaran akan menambah gas rumah kaca. Salah satu cara mengurangi efek emisi gas rumah kaca, Balitbangtan telah meluncurkan teknologi biodekomposer yang mendekomposisi biomassa, sehingga tidak perlu dibakar.

 

Begitu pula dengan teknologi konservasi air yang bisa digunakan sebagai penyerapan air, efisiensi penggunaan air, sekaligus mengurangi emisi. Syakir menilai, teknologi macak-macak, lebih efisien dalam penggunaan air dan kurangi emisi. Termasuk pemupukan dengan pupuk rendah emisi.

 

Pada kesempatan itu, Syakir mengungkapkan, pihaknya juga konsentrasi dalam menghasilkan teknologi yang bisa beradaptasi dengan perubahan iklim. Mulai dari penyiapan lahan, teknologi budidaya termasuk varietas yang mampu beradaptasi pada perubahan iklim. “Teknologi yang dihasilkan Balitbang tak hanya spesifik lokasi, tetapi memiliki spektrum yang luas di berbagai kondisi perubahan iklim yang berdurasi tinggi,” katanya.

 

Syakir menyebutkan, beberapa teknologi dari Balitbang yang sudah sukses dikembangkan dan mampu beradaptasi dengan baik selama perubahan iklim. Mulai dari varietas pangan yang tahan rendaman dan cekaman (varietas amphibi) seperti Inapago 30, konservasi air dalam bentuk embung/dam parit/long storage, teknologi jarwo super hingga alat dan mesin pertanian untuk efisiensi produksi. 

 

“Dengan teknologi tersebut, Syakir berharap, pertanian bisa tetap eksis, produktivitasnya tetap tinggi dan efisien dan petani tetap mendapatkan pendapatan yang baik,” katanya.

 

Tak hanya menghasilkan teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim, Balitbang juga menghasilkan teknologi mitigasi untuk mencegah dampak perubahan iklim yang lebih meluas, sekaligus mempersiapkan inovasi untuk pertanian masa depan. Gsh

 

 

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162