Loading...

Lahan Tidur Sumber Pangan Baru

11:35 WIB | Wednesday, 11-January-2017 | Sorotan | Penulis : Ahmad Soim

Langkah panjang Indonesia menuju swasembada pangan menuju titik terang. Produksi pangan bergerak ke arah positif. Bahkan tahun 2017, produksi pangan diyakini bakal meroket dengan langkah mengaktifkan kembali lahan-lahan tidur di daerah.

 

Bahkan saat Rapat Kerja Na­sional Pembangunan Per­tanian di Jakarta, pekan lalu, Presiden, Joko Widodo te­lah meminta Kementerian ATR/BPN agar mengidentifikasi la­han terlantar atau lahan tidur 11,6 juta ha untuk dioptimalkan pemanfaatannya.

Beragam upaya menuju pening­katan produksi tahun 2017 dilakukan. Berkaitan dengan ren­cana pelaksanaan program Tahun Anggaran (TA) 2017, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman meminta agar fokuskan beberapa kegiatan utama. Di antaranya pengembangan sumber-sumber air dalam rangka pemanfaatan lahan kering untuk peningkatan produksi pangan dan percepatan pencetakan sawah.

“Pemanfaatan lahan kering yang didukung dengan pengem­bangan sumber-sumber air ter­sebut kita laksanakan untuk per­cepatan peningkatan produksi pa­ngan melalui peningkatan IP.  Percepatan  pencetakan sawah perlu kita wujudkan untuk per­cepatan pencapaian target Nawa Cita 1 juta ha hingga tahun 2019,” tutur Amran saat Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian.

Tak hanya intensifikasi berupa peningkatan indeks pertanaman (IP), Kementerian Pertanian juga meneruskan peningkatan luas tambah tanam (LTT) melalui meng­aktifkan kembali lahan-lahan tidur di daerah. “Untuk mewujudkan swasembada pangan salah satunya melalui luas tambah tanam dengan membangunkan lahan tidur yang luasnya mencapai 14 juta ha,” katanya.

Lahan-lahan yang belum di­manfaatkan untuk kegiatan per­tanian produktif dapat dika­tegorikan sebagai lahan tidur. Se­bagai contoh, lahan-lahan yang pernah  dibuka untuk pertanian atau diambil kayunya untuk keperluan industri lalu tidak digunakan lagi atau terlantar. Kondisi lahan tersebut umumnya terbuka atau telah ditutupi tum­buh-tumbuhan yang tidak produktif seperti alang-alang, semak belukar dan lain-lain.

Direktur Jenderal Tanaman Pa­ngan, Kementerian Pertanian, Hasil Sembiring berharap dengan memanfaatkan lahan tidur akan terjadi peningkatan produksi yang sangat signifikan. Kalkulasinya, jika lahan tidur dimanfaatkan dan produktivitas tanaman padi yang didapat minimal 5 ton/ha, maka akan ada tambahan produksi cukup besar.

“Lahan tidur tersebut bisa di­manfaatkan untuk budidaya padi gogo, jagung maupun ke­delai,” katanya. Namun Hasil meng­akui, mayoritas lahan ti­dur merupakan lahan kering sehingga produktivitas dipastikan rendah. Untuk mengatasi hal ter­sebut, varietas unggul akan di­kombinasikan dengan teknik per­siapan lahan, pengendalian gulma hingga perbaikan sistem pemupukan.

Sejalan dengan upaya pe­man­faatan lahan tidur, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) berupaya mencetak sawah baru selama tahun 2017. Targetnya tak kurang dari 80 ribu ha lahan akan dicetak di seluruh provinsi di Indonesia.

Strategi cetak sawah yang dilakukan dengan membuka dan membentangkan ribuan hek­tar sawah di sejumlah wilayah. Nantinya, sawah-sawah yang ber­hasil dicetak itu tetap ha­rus dipastikan bisa segera di­man­faatkan petani sebagai la­han bertanam padi. Fasilitas infra­struktur air juga akan diupayakan sepenuhnya oleh Kementan. Se­perti pembuatan embung, dam parit hingga long storage.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162