Loading...

Larangan AGP, Peternak Minta Solusi Pemerintah

15:30 WIB | Monday, 29-January-2018 | Ternak, Komoditi | Penulis : Kontributor

 

 

Mulai 1 Januari 2018 pemerintah melarang penggunaan AGP (Antibiotic Growth Promoter) melalui Permentan No 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Larangan yang bertujuan untuk mencegah resistensi antibiotik tersebut diprediksi bakal mempengaruhi biaya produksi usaha ternak unggas.

 

Karena itu Ketua GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional), Herry Dermawan berharap pemerintah memberikan solusi alternatif sebagai pengganti AGP. Sebab menurutnya, tantangan terbesar dengan larangan penggunaan AGP adalah biaya produksi yang dikeluarkan peternak kemungkinan akan lebih tinggi dibandingkan menggunakan AGP. "Meningkatnya biaya produksi tentu saja memberatkan peternak rakyat," ujarnya saat Sarasehan Peternak Nasional 2018 digelar Perhimpunan Peternak Unggas Nasional (PPUN) di IPB International Convention Center, Bogor, pekan lalu.

 

Namun Herry menegaskan, larangan AGP tidak akan berpengaruh terhadap harga jual. Pasalnya, harga ayam dipengaruhi supplay dan demand. Kalau "meningkatkan biaya produksi mungkin iya,” katanya

 

Terkait dengan biaya produksi, Herry menjelaskan, bahwa pertumbuhan ayam terdiri dari 30% genetik dan 70% lingkungan, termasuk pakan. Dengan demikian, yang diberikan ke ayam disesuaikan kebutuhan nutrisinya, sehingga dapat tumbuh maksimal. “Jangan ada anggapan peternak membeli AGP lalu memberikannya ke ayam. Tidak seperti itu, AGP dimasukkan dalam campuran pakan,” ujarnya.

 

Herry mengatakan, sebenarnya ada cara lain sebagai pengganti AGP yakni dengan bahan yaitu probiotik, prebiotik dan 2 enzim. Namun dengan cara itu, panen ayam yang biasanya dalam usia 28-30 hari menjadi mundur sekitar 3-4 hari. Meskipun mundur 3-4 hari namun ketersediaan di pasar bisa diantisipasi dengan ayam yang berada di cool storage.

 

Meski pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pelarangan AGP tersebut, namun dikalangan industri perunggasan ada yang belum sepenuhnya siap memproduksi ayam dan telur tanpa AGP. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita mengungkapkan, pelarangan AGP tersebut karena World Health Organization (WHO) mengkuatirkan adanya resistensi antibiotik. “Sampai kini belum ada pernyataan yang terkait resistensi antibiotik dari daging ke manusia,” ujarnya.

 

Sementara itu Guru Besar IPB, Budi Tangenjaya mengatakan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan peternak untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam. Diantaranya persiapan kandang sebelum anak ayam datang, pencegahan kontaminasi dan stress ketika pengangkutan DOC, pemberian pakan yang berkualitas.

 

Selain itu, pemberian pelet yang berkualitas dan memperhatikan kandungan jenis fiber, vaksinasi yang baik dan pencegahan serangan koksi, sanitasi air minum serta peningkatan biosekuriti yang lebih ketat lagi baik secara struktural maupun operasional. Yusrina

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162