Loading...

Largo, Panen Padi di Lahan Kebun

14:45 WIB | Monday, 19-March-2018 | Inovasi Teknologi, Teknologi | Penulis : Kontributor

 

 

Potensi lahan kering di Indonesia cukup besar. Sayangnya, belum dioptimalkan, termasuk dalam mendukung peningkatan produksi pangan. Namun dengan sentuhan teknologi, lahan sub optimal tersebut bisa menjadi pemasok pangan.

 

Salah satu yang kini dikembangkan Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) adalah optimalisasi lahan kering. Uji coba seluas 100 ha tersebut bukan dilahan sawah irigasi, tapi di lahan kering dataran rendah dan di bawah tanaman kelapa.

 

Tepatnya di Desa Banjarejo dan Desa Puliharjo, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, diadakan uji coba penanaman padi di lahan kering dengan teknologi Larikan Gogo Super (Largo Super). Kepala Balitbang Pertanian, M. Syakir mengakui, saat awal pelaksanaanya petani sempat meragukan akan keberhasilan, tapi setelah melihat hasilnya akhirnya petani antusias.

 

“Saya mengapresiasi keberhasilan pendekatan Largo Super yang telah meningkatkan produktivitas padi di lahan kering secara nyata di areal demfarm 100 ha di Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen,” kata Syakir saat panen perdana penerapan teknologi Largo Super beberapa waktu lalu.

 

Dalam teknologi tersebut, varietas padi yang ditanam adalah Inbrida Padi Gogo (Inpago) 8, 9, 10, dan 11. Juga IPB 8G dan IPB 9G, HIPA dan Situ Patenggang. Varietas-varietas ini memiliki potensi meningkatkan produksi dari 1 – 3 ton/ha dengan kata lain peningkatan hasil nyata sebesar 100 %.

 

Tim BPS yang melakukan ubinan terhadap beberapa titik pertanaman Largo Super mendapatkan produtivitas padi gogo di demfarm ini dapat mencapai 7,9 ton/ha dengan Inpago 8  (5 ton/ha), Inpago 9 (6,14 ton/ha),  Inpago 10 (7,93 ton/ha), Inpago 11 (7,10 ton/ha).

 

Capaian ini meningkat hampir 3 ton dibandingkan rata-rata di tingkat petani yang hasilnya sekitar 4 ton/ha. Selama ini eksisting rata-rata padi gogo ditingkat petani di Kecamatam Puring sebanyak 4 ton/ha.

 

Kepala Balitbangtan berharap teknologi Largo Super dapat terus dikembangkan di seluruh lahan kering di Indonesia yang potensinya masih sangat besar. Bersamaan dengan panen Largo Super, dilakukan launching teknologi Largo Super untuk diterapkan secara lebih luas di sentra-sentra lahan kering lainnya di Indonesia. 

 

Teknologi Biosilika

 

Sementara itu untuk mengoptimalkan produksi padi di lahan kering, Balitbangtan melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) memproduksi silika dari abu sekam yang kemudian dipopulerkan dengan nama biosilika.  

 

Paket teknologi padi lahan kering Largo Super yang diujicobakan di Desa Banjareja, Kecamatan Puring, Kabupaten Kebumen, penggunaan Biosilika termasuk dalam paket teknologi.

 

Kepala BB Pascapanen, Prof. Dr. Risfaheri mengatakan, teknologi produksi biosilika ini tidak berkompetisi dengan pemanfaatan sekam padi untuk bahan bakar, tapi bersinergi. Sebab, energi panas dari pembakaran sekam untuk mengeringkan gabah. Sementara abu sekam hasil pembakaran sebagai bahan produksi biosilika.

 

Biosilika telah diujicoba pada padi sawah di Jawa Barat, Lampung, Aceh, dan Bali. “Sejauh ini, testimoni petani dan penyuluh serta minat masyarakat terhadap pemberian biosilika pada tanaman padi sawah sangat positif.,” katanya. Shr/BB Padi

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162