Loading...

M. Syakir: Enam Bulan Likotuden Dikenal Dunia

23:25 WIB | Wednesday, 17-May-2017 | Teknologi, Klinik Teknologi | Penulis : Kontributor

Likotuden, sebuah dusun kecil di desa Kawaleo, Larantuka. Dusun di pesisir selat solor ini akbrab dengan sebutan desa miskin. Alamnya tandus berbatu, jenis tanaman pangan pun terbatas. Hanya sorgum, lamtoro dan kelor yang kuat menantang alamnya. Berkat tekad kuat masyarakatnya yang ditopang bio industri, kini Likotuden dikenal dunia sebagai bagian dari pemasok sorgum dalam waktu enam bulan.

 

Dari berbagai literatur disebutkan, lebih dari 500 juta penduduk bumi ini mengkonsumsi biji yang kaya akan karborhidrat ini. Konon, bangsa Mesir telah bercocok tanam sorgum sejak 3000 tahun sebelum masehi. Saat ini, di dunia, tanaman ini telah berkembang luas di Amerika Serikat, Nigeria, Mexico dan India.

 

Negara-negara itu memang lebih dulu mengembangkannya, tetapi bukan berarti terlambat untuk Indonesia. Beberapa kawasan Timur Indonesia adalah lokasi yang sangat pas untuk mengembangkan sorgum. Di gugusan kepulauan Flores, daerah-daerah yang serupa dengan Larantuka masih cukup banyak. Ini artinya, titik kecil di dusun Likotuden ini adalah awal baru kebangkitan sorgum nasional.

 

“Larantuka sudah membuktikan, sorgum di sini telah memberikan dampak ekonomi dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Tanaman ini berfungsi ganda sebagai sumber pangan dan sumber pendapatan” Kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), M. Syakir pada saat Panen Bersama dan Launching Alsintan Pasca Panen Sorgum, pekan lalu.

 

M. Syakir bercerita, lompatan keberhasilan bioindustri sorgum di Larantuka ini bukan telah dirancang bertahun-tahun, tetapi hanya dalam waktu  enam bulan. “program bio industri ini bukan dirancang sejak awal anggaran tahun 2017, tetapi program ini adalah program prioritas yang dilaksanakan di tengah tahun anggaran. Dan hasilnya ternyata, kita bisa melakukan panen ini”.

 

Saat ini Balitbangtan tidak hanya fokus terhadap penelitian dan pengembangan teknologi yang telah dilakukan perancangan sejak tahun anggaran sebelumnya, tetapi kalau ada progam prioritas, maka memungkinkan untuk menggeser beberapa anggaran program untuk mensukseskan program prioritas itu.

 

“Sejak ibu Maria Loretha menghadap Menteri Pertanian Oktober tahun 2016 lalu, Kami Balitbangtan langsung memberikan dukungan mewujudkan program prioritas 1000 hektar lahan sorgum di Larantuka dengan program bioindustri sorgum . Hasilnya, sampai hari ini telah berhasil di tanam 772 hektar sorgum. Kami yakin sampai akhir tahun ini seluruh target itu tercapai” ujar Syakir menambahkan.

 

Mengutip pernyataan Menteri Pertanian saat kunjungan Maria Loretha ke Kementerian Pertanian tahun lalu, Mentan, Andi Amran Sulaiman memberikan tantangan, “jika 1000 hektar ini berhasil dikembangkan pada tahun 2017, maka pada tahun 2018 luas tanaman sorgum ini akan dikembangkan seluas 10.000 hektar.

 

Pesan Penting

 

Untuk lebih membesarkan bioindustri sorgum di Larantuka, M. Syakir memberikan beberapa pesan penting. Untuk system budidaya, sampai tahun 2017 telah tersedia varetas unggul local dan varietas unggul nasional untuk mendukung perluasan areal sorgum. Pada aspek pemeliharaan harus dilaksanaan penerapan berbagai inovasi untuk peningkatan mutu dan produktivitas.

 

Pada aspek alat dan mesin, segera dilakukan penambahan alat dan mesin pertanian yang memang diperlukan masyarakat baik pada tahap budidaya maupun pada pasca panen. Alat dan mesin untuk memproduksi gula cair dan tepung menjadi prioritasnya.

 

Untuk melengkapi komponen ekonomi masyarakat, peternakan juga akan mulai dikembangkan, sehingga limbah sorgum bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak pada saat musim kemarau. Lis

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162