Loading...

Marigold, Bunga Tai Ayam Penghasil Emas

15:03 WIB | Monday, 12-February-2018 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Gesha

 

 

Mungkin banyak yang tak begitu kenal dengan bunga Marigold. Tapi kalau disebut nama Tai Ayam, Tai Kotok, atau Gemitir mungkin masyarakat akan lebih familiar. Di banyak wilayah Indonesia, tanaman tersebut merupakan jenis bunga yang tumbuh liar, bahkan hidup di semak-semak.

 

Meski sebutan namanya kurang enak terdengar, tapi di Pulau Dewata Bali terdapat kebun bunga Marigold. Lokasinya di daerah Baturiti, terhampar pemandangan indah. Bunga berwarna kekuningan cerah dengan daunnya hijau tua.

 

Jika sempat berkunjung ke lokasi tersebut, memang tersebut akan tidak tercium bau wangi. Berbeda jika ke kebun bunga yang ditumbuhi melati atau anggrek. Di balik julukan yang kurang mengenakkan, si cantik Marigold ini ternyata memiliki peluang emas.

 

Hal itu diakui pemilik pusat pembibitan marigold hybrid Bali Gemitir, Agus Ervani saat ditemui Tabloid Sinar Tani. Menurutnya di Bali, gemitir sangat diperlukan untuk upacara keagamaan dan penghias ruangan hotel dan tempat wisata.  “Kebutuhan bunga ini di Bali bisa mencapai 30-40 ton per hari,” ujarnya.

 

Apalagi menurut Agus, jika menghadapi hari raya, maka permintaannya meningkat pesat. Harganya pun bisa melonjak tinggi. Bisa mencapai Rp 10 ribu-15 ribu. Tapi yang pasti harganya selalu di atas BEP atau di atas Rp 3.500/kg. “Untuk pemasarannya, kami masih menjual kebutuhan pasar lokal di Bali dan Lombok,” katanya. Untuk menjaga mutu, lanjut Agus, pihaknya tengah melakukan pendampingan kepada petani dalam budidaya marigold hingga pascapanen.

 

Selain menjadi bunga hias, Marigold juga ternyata bisa menjadi salah satu tanaman refugia yang ditanam petani di pematang sawah sebagai musuh alami hama dan penyakit tanaman padi. Menariknya, marigold pun tak harus ditanam pada kondisi lahan yang tinggi atau wilayah dingin. Daerah dataran rendah sekalipun bisa tumbuh, bahkan lebih bagus karena fotosintesis lebih tinggi sehingga bisa bunganya lebih indah.

 

“Bunga ini bisa dibudidayakan di pekarangan. Kini kita bersama Asosiasi Pelaku Usaha Horti (Aspehorti) memanfaatkan lahan pekarangan yang sempit,” tambahnya. Apalagi untuk daerah perkotaan yang lahannya terbatas, budidaya marigold bisa dengan sistem vertikultur dan hidroponik. Dengan demikian, masyarakat bisa membudidayakan sendiri tanaman ini dan tidak perlu membeli di pasar bunga untuk upacara keagamaan.

 

Bagaimana cara budidayanya? Budidaya marigold tidak terlampau sulit. Inilah tahapannya.

 

  1. Sebelum tanam, tanah digemburkan terlebih dahulu dengan menggunakan cangkul atau bajak sedalam 20-30 cm. Kemudian ratakan tanah dan buat guludan setinggi 30-40 cm. Untuk drainase bisa dibuat parit di sekeliling bedengan.
  2. Guna memudahkan pemeliharaan tanaman dan gangguan gulma, bedengan bisa menggunakan mulsa plastik. Dengan mulsa, tanaman mendapatkan kemudahan dalam bertumbuh yaitu kelembaban, menjaga kestabilan suhu, mengurangi penguapan pupuk, hingga menjaga struktur tanah dari derasan air hujan.
  3. Sebelum ditutup dengan mulsa, tanah dipupuk dengan pupuk organik sebanyak 20 ton per ha dan pupuk dasar NPK 150 kg/ha.
  4. Penanaman bibit dari hasil semai bisa dilakukan pada sore hari, agar tanaman tidak layu karena sengatan matahari. Jarak tanam pun diatur yaitu 40cm x 60 cm. Jika menggunakan mulsa plastik sebaiknya ditandai dahulu.
  5. Pemeliharaannya sendiri dilakukan dengan penyiraman setiap hari. Jika musim kemarau sebaiknya pemupukan tiap 10 hari setelah ditanam dengan dosis NPK sebanyak 2 sendok/pohon. Pemupukan selanjutnya dilakukan setelah 35 hari kemudian.
  6. Untuk hama tanaman, jangkrik dan belalang harus diwaspadai, terutama saat permulaan tanam. Hama ini bisa memotong batang tanaman sehingga bisa mati.
  7.  Bila ada serangan hama yang mengkhawatirkan bisa dilakukan penyemprotan dengan pestisida seminggu sekali. Khusus untuk musim hujan, cendawan seringkali menyerang tanaman marigold, sehingga menyebabkan tanaman berwarna hitam.
  8. Jika ini terjadi, lakukan pencabutan tanaman yang terinfeksi agar tidak menyerang kepada tanaman yang sehat. Panen sendiri bisa dilakukan setelah usia tanaman mencapai 60 hari (2 bulan) dan ditandai dengan bunga yang sudah bermekaran. Gsh

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162