Loading...

Masyarakat Lombok Timur Pertahankan Embung sebagai Kearifan Lokal

14:41 WIB | Tuesday, 28-November-2017 | Sarana & Prasarana, Non Komoditi | Penulis : Kontributor

Masyarakat Lombok Timur, Nusa Tenggara Timur hingga kini tetap menjaga waduk sebagai kearifan lokal warisan leluhur. Upaya itu telah banyak membantu pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan.

 

"Dengan adanya embung-embung ini air mengalir melalui saluran dan perpipaan sederhana, kini di Kecamatan Jerowaru sudah bisa mengoptimalkan fungsi lahannya untuk bertaham padi dan palawija sepanjang tahun. Itu semua berkat kearifan lokal turun-temurun,” kata Penanggung Jawa Upaya Khusus Padi, Jagung, dan Kedelai (Upsus Pajale) Nusa Tenggara Timur (NTT), Ani Andayani, beberapa waktu lalu.

 

Tercatat ada 1.627 unit embung dengan ukuran bervariasi mulai 25-100 are di Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, NTB. Luasan embung tergantung letak dan kontur lahan. Air dari embung tersebut mampu mengairi seluas 4.384 hektar (ha) lahan pertanian di kecamatan tersebut.

 

Sayangnya, menurut Ani, embung mulai mendangkal dalam beberapa tahun terakhir, karena endapan air tanah secara alami. Karenanya, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur berharap, pemerintah pusat memberikan perhatian dengan memperbaiki embung tersebut. Caranya, menggali endapan atau memperdalam, sehingga fungsi menampung  air semakin optimal. “Ini sangat erat kaitannya dengan pengelolaan infrastruktur tata air di lahan tidur,” kata Ani yang juga Staf Ahli Mentan Bidang Infrastruktur itu.

 

Karena itu ungkap Ani, pada APBN 2018 melalui dana alokasi khusus (DAK), pemerintah menyediakan anggaran untuk Lombok Timur untuk tata kelola air irigasi. Harapannya agar bisa mendukung Lombok Timur sebagai penyanggah pangan nasional melalui padi, jagung, cabai, dan bawang putih.

 

Ketua Poktan Sijeruk Bersatu, Hariadi mengatakan, embung yang dikelola petani merupakan peninggalan kakeknya dan dibangun sekitar 50-60 tahun silam. Meski harus berbagi warisan lahan dengan saudara-saudara, namun Hariadi mengkui, tetap mempertahankan embung.

 

Sebab, dengan adanya embung tersebut, keluarga dan petani lainnya bisa terus bercocok tanam. Air embung dimanfaatkan untuk irigasi, juga wisata mancing. “Kami semua bersaudara, menyadari betul betapa pentingnya embung. Maka, kami tetap rukun,” imbuh Haryadi.

 

Embung miliknya berada di lahan seluas 50 are dan bersanding dengan lahan pertanian 50 are. Untuk memperkuat tanggul, pinggiran embung ditanami dengan bambu. Sehingga, akar bambu memperkuat sekitar embung dan menjaganya dari malfungsi lainnya.*/Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162