Loading...

Membalikkan Paceklik Jadi Panen

15:40 WIB | Saturday, 13-January-2018 | Pangan, Komoditi | Penulis : Clara Agustin

 

 

Titik kritis paceklik yang biasanya terjadi diawal tahun dapat terlewati dengan mengubah paradigma pertanian Indonesia. Paceklik terlewati, panen pun dimana-mana.

 

"Kita ubah paradigma paceklik ini dengan mengawal langsung di lapangan dengan maksimal. Bantuan berupa saprotan (sarana produksi pertanian), alsintan (alat dan mesin pertanian), infrastruktur diperbaiki dan asuransi pertanian," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian), M. Syakir saat panen di Dusun Semanding, Desa Curung Rejo, Kec. Kepanjen, Kab. Malang, Jawa Timur, Jum'at (12/1).

 

Dengan perubahan paradigma ini, awal tahun 2018 tidak ada paceklik melainkan terjadi panen di daerah lumbung pangan di 17 provinsi. Di Jatim ini pada Januari 2018 akan ada luas panen sekitar 75 ribu ha dan di Kabupaten Malang 2.800 ha.

 

Keberhasilan panen menurut Syakir, karena persoalan utama dalam pertanian yakni masalah air sudah dapat diselesaikan pemerintah. Ini dibuktikan dengan adanya perbaikan jaringan irigasi 3 juta ha, pembangunan embung 3 ribu unit, pembangunan long storage dan tampungan air lainnya, serta pemberian bantuan pompa air.

 

"Air ini yang penting. Makanya kita perbaiki dan bangun penampungan air, irigasi dan lain-lainnya. Manajemen pengairannya pun kita perbaiki. Makanya sekarang tidak hanya tanam di lahan irigasi saja. Kita juga maksimalkan penggunaan di lahan-lahan sub optimal," papar Syakir.

 

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kab. Malang, Nasri Abdul Wahid mengatakan, selama tahun 2017 terjadi panen seluas 71 ribu ha, berati setiap minggunya selalu panen 1.300 ha. Dengan demikian dapat dikatakan kondisi aman.

 

"Ini berkat adanya pengawasan langsung di lapangan dari seluruh jajaran pemerintah dan instansi. Selain itu, pemerintah memberikan bantuan alsintan sebanyak 421 alsintan dan semuanya terpakai," katanya.

 

Selain itu, Nasri menambahkan, seluas 45 ribu ha lahan pertanian di Malang sudah disahkan tidak boleh terjadi konversi lahan ke non pertanian. Dengan demikian, kegiatan usaha tani berjalan dengan lancar. "Di lahan yang kita sedang panen saja (Desa Curung Rejo) hampir 50 ha adalah kawasan premium. Jadi pemerintah benar-benar memperhatikan dari pra hingga pascapanennya," jelasnya.

 

Mantri Tani Desa Curung Rejo, Dwi Pujiwati mengatakan, panen di awal tahun ini sangat luar biasa dibandingkan bulan yang sama pada tahun lalu. Ada kenaikan 10 persen. "Tahun lalu kita hanya panen 6,5-7 ton per ha GKP (Gabah Kering Panen). Sekarang jadi 8 ton per ha GKP. Harganya pun tinggi. Biasanya Rp 4.700 per kg, sekarang Rp 5.600 per kg," jelasnya.

 

Kenaikan produksi ini bukan hanya dari faktor cuaca dan iklim yang bersahabat, melainkan adanya bantuan pemerintah, infrastruktur yang memadai, dan beralihnya penggunaan varietas non hibrida ke hibrida.

 

"Dulu pemerintah sudah sering sekali meminta kami untuk mengganti varietas hibrida, tetapi kita masih enggan. Atas inisiatif sendiri, petani mulai mengganti varietas unggul hibrida. Ternyata hasilnya bagus dan beras yang dihasilkan pun lebih pulen dibandingkan sebelumnya," pungkas Dwi. Cla

 

 

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162