Loading...

Membangun Pengawasan yang Berpihak Kepada Petani dalam Penanganan Produksi Pangan

14:18 WIB | Monday, 11-September-2017 | Agri Wacana, Agri Wacana | Penulis : Kontributor

Oleh : Agus Triwibowo

 

Pengelolaan kualitas dan kuantitas produksi panganmemerlukan suatu sistem produksi danpengawasan yang baik.

 

Fluktuasi harga pangan masih menjadi hal yang menakutkan bagi para petani pangan, horti, perkebunan dan pertanian Indonesia. Sebagai contoh, pada saat panen raya, harga bawang merah di tingkat petani turun drastis di bawah Rp 15.000,- per kg. Padahal, sebelum panen raya harga bawang merah dapat menembus nilai Rp 50.000,00,-/kg. Suatu harga yang fantastis.

 

Siapa yang bertanggungjawab atas kondisi pasar tersebut? Beberapa unsur yang mempengaruhi harga produksi komoditas pertanian di dalam negeri saat ini terutama dipengaruhi musim dan belum memadainya manajemen produksi di tingkat lapangan/petani, sehingga belum terjamin pasokannya setiap saat. Hal inilah yang menjadi tantangan kita untuk lebih giat melakukan sosialisasi kepada petani terhadap manajemen produksi, sehingga petani kita dapat meminimalisasi usaha tani tradisional individual yang berlahan sempit.

 

Untuk petani di luar Jawa yang lahannya relatif lebih luas, termasuk petani transmigrasi perlu asupan manajemen usahatani yang baik termasuk teknologinya. Maka untuk itu sebelum dilakukan transmigrasi sangat perlu diberikan masukan teknologi menjadi pola usaha pertanian skala luas berbasis agribisnis. Sedangkan untuk petani di pulau jawa dengan kepemilikan lahan yang sempit, perlu dibentuk gabungan kelompok tani, sehingga lahan usahanya menjadi skala luas. Mereka perlu dibina untuk menjalankan usaha berwawasan agribisnis. Hal inilah yang belum dilakukan oleh direktorat teknis di lingkup Kementan. Sekaligus bagaimana merangkul pebisnis dan atau instansi terkait sebagai penampung produksi/harga pasar harga yang dapat menguntungkan petani.

 

Harus diakui bahwa salah satu faktor terjadinya kemelorotan produksi adalah harga pasar yang rendah yang tidak menggugah petani untuk berusaha tani lagi, terutama secara swadaya. Hal inilah yang menimbulkan petani selalu berharap bantuan pemerintah berupa benih dan saprodi. Ketika harga rendah maka petani merasa tidak mengalami kerugian yang tinggi. Hal ini juga akan berdampak petani kurang serius dalam berusaha tani, sehingga menurunkan produksi. Jika terjadi skala luas akan mengganggu produksi nasional dan berpeluang terjadi impor.

 

Pengawasan yang perlu dilakukan

 

Fungsi pengendalian/pengawasan seperti apa yang harus dibangun untuk melindungi petani dari keterpurukan produksi dan harga komoditas pangan dan produk pertanian. Terutama, jangan sampai saat petani panen raya, harga jualnya jatuh dan mereka rugi.

 

Kunci utamanya di sini adalah harus ada kementerian yang ditunjuk untuk melakukan pengawasan dan atau mengkoordinasikan peran lembaga yang menangani pasca panen. Dalam hal ini dapat dilakukan oleh Kementerian Perekonomian, yaitu untuk mengakomodir secara langsung operasional di lapangan terhadap Bulog sebagai penyangga stok pangan dan harga, Kementerian Perdagangan, Perindustrian, koperasi dan lainnya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162