Loading...

Menanti Inovator Muda dari Ajang Agriventor

15:08 WIB | Wednesday, 22-November-2017 | Inovasi Teknologi, Teknologi | Penulis : Gesha

Inovasi teknologi pertanian kini telah menjadi sebuah tuntutan dengan berkembangnya modernisasi pertanian. Untuk mendapat inovasi terbaru di bidang pertanian, Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita) menggelar kompetisi para penemu muda dalam ajang Agriventor.

 

Di awal pembukaan seleksi, terdaftar 350 ide inovasi pertanian. Setelah diseleksi tahap awal, Agriventor menyisakan sebanyak 113 ide inovasi yang berhak melaju membuat prototipe (purwa rupa) hingga 20 Desember 2017 mendatang. 

 

Koordinator Nasional Gempita, A. Riyada menuturkan sistem penjurian dilakukan secara regional di daerah masing-masing. Karena rata-rata inovator berasal dari kampus, sehingga juri nantinya akan datang ke kampus-kampusnya finalis.

 

Ada lima kriteria dalam Agriventor 2017, yakni inovasi teknologi tepat guna, menggunakan produk dalam negeri, alat dan mesin pertanian cerdas dan canggih, alat pertanian yang dapat meningkatkan hasil pertanian, serta alat pertanian yang dapat memudahkan petani dalam proses penanaman, perawatan  hingga panen.

 

Dari keseluruhan proposal yang masuk, panitia Agriventor hanya meloloskan ide inovasi yang sesuai kriteria. Banyak yang tidak lolos menurut Riayada, karena inovasinya hanya seputar cara budidaya, pupuk dan benih. “Kita inginkan sekarang ini adalah memperkuat prototipe alsintan, bukan saprodi seperti benih dan pupuk,"  ujarnya.

 

Beberapa contoh ide inovasi yang masuk ke panitia Agriventor adalah alat tanam jagung menggunakan robot hingga pompa air tenaga surya ekonomis. Karena itu dengan adanya inovasi tersebut, Riyada berharap akan berkelanjutan dan bisa dibuat dalam skala lebih besar dan massal, sehingga berguna bagi penemu dan dinikmati petani.

 

Dari 113 ide inovasi dan prototipe tersebut akan dipilih 6 terbaik secara nasional dan akan dipermudah untuk MoU dengan pabrik alsintan. Menariknya, beberapa peserta yang lolos justru berasal dari kalangan non pertanian seperti mahasiswa teknik, informatika, bahkan ada juga dokter.

 

Banyaknya peserta dari non pertanian tersebut menurut Riayada menunjukkan berbagai kalangan mempunyai keinginan besar untuk memajukan pertanian melalui inovasi alsintan. “Sekitar 90% peserta berasal dari non pertanian dan mereka tidak pernah tersentuh dengan isu-isu pertanian tetapi tertarik dengan permasalahan dan berupaya memberikan solusi dengan skill yang dimiliki,” tuturnya.

 

Inilah yang memang diharapkan panitia Agriventor. Dimana kompetisi ini mampu melahirkan penemu muda yang berdampak pada penguatan teknologi pertanian, penguatan pilar generasi muda di bidang pertanian, perluasan areal tanam, dan peningkatan produksi pangan.

 

“Kita dorong juga agar inovasi tersebut diproduksi massal dan dibuatkan HaKI (Hak Kekayaan Intelektual), sehingga penemu mendapatkan royalti atau temuannya,” papar Riyada.  Gsh

 

Editor :Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162