Loading...

Mengembangkan Pertanian Lahan Kering untuk Pasar Global

08:49 WIB | Tuesday, 04-July-2017 | Agri Wacana, Agri Wacana | Penulis : Kontributor

George M. Manu - Staff FAO Indonesia

 

Presiden RI Joko Widodo berharap bisa menjadikan ekspor sebagai salah satu aktivitas ekonomi yang menjamin tercapainya pertumbuhan ekonomi dari 5.4 hingga 6.1%. Potensi ekspor pertanian masih sangat besar. Pada akhir Desember 2016, total ekspor Indonesia mencapai nilai 82,228 juta US$. Dari total ekspor ini, produk pertanian yang diekspor hanya mencakup 22.4% dari total export share (www.kemendag.go.id). Namun ekspor yang dilakukan itu hampir tidak dilakukan untuk komoditi sayuran, biji-bijian, dan ternak atau produk olahan daging sapi.

 

Sebagai negara agraris, Indonesia semestinya dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan mengandalkan ekspor hasil-hasil pertanian termasuk hasil pertanian lahan kering. Sebagai pembanding, nilai ekspor Australia mencapai 31.8 juta AUS per Januari 2017 (world export.com). Dengan wilayah pertanian yang sempit di daerah selatan dan barat daya, Australia mebukukan rekor ekspor biji-bijian dan ternak pada negara lain seperti China, India, Jepang, dan bahkan ke Amerika Serikat. Bahkan ekspor biji-bijian Australia yang dihasilkan dari kantong-kantong lahan kering cenderung meningkat dari 1.7 hingga 2.7%.

 

Sistim Pertanian yang Berorientasi Ekspor

 

Sistim pertanian Indonesia dikenal luas sebagai sistim pertanian subsisten di mana setiap petani hanya mengelola areal yang kecil (pada umumnya kurang lebih ukurannya 20 x 30 m2) untuk menanam lebih dari satu tanaman pada lahan tersebut. Panen dari lahan ini akan digunakan untuk memberi makan bagi keluarga dan sebagiannya disimpan untuk bibit di musim berikutnya. Bila ada sebagian yang masih tersisa sesudah pengalokasian tersebut, maka bagian itulah yang akan dijual untuk membeli kebutuhan rumah tangga lain seperti gula, kopi, dan bahan bakar (minyak tanah) yang tidak bisa dihasilkan sendiri dari lahan.

 

Untuk mentransformasi para petani subsistem menjadi petani komersial seperti Petani Australia, pola pikir petani-petani subsistem ini harus diorietasikan kembali pada bisnis yang berskala kecil sebelum mereka menjajaki pasar global. Para penyuluh hendaknya mengajari petani untuk memilih tanaman yang diperjualbelikan di pasar lokal sambil menyimpan sebagiannya untuk konsumsi keluarga. Lebih lanjut lagi, para petani subsistem hendaknya dibuat cerdas dalam menjadikan lahan mereka produktif sepanjang tahun dengan menyeleksi tanaman yang tumbuh di musim yang berbeda-beda sepanjang tahun dan yang tahan terhadap perubahan iklim (tidak turun hujan, dll).

 

Bila petani sudah memulai pertanian komersial dari lahan mereka yang masih sempit, maka Pemerintah lokal hendaknya berpikir untuk mengembangkan pertanian petani-petani ini ke lahan yang lebih luas lagi. Untuk itu, pada skala yang lebih besar, hendaknya ada sistim kredit yang diakses oleh petani untuk mengoperasikan lahan komersial berskala besar yang membutuhkan dana operasional yang besar. Bila tidak demikian, para petani subsistem akan tetap miskin dan tidak satupun warga masyarakat yang mau menjadi petani di masa mendatang.

 

Pengelolaan Air dan Perawatan Infrastruktur Air

 

Kekurangan air merupakan salah satu isu utama di Indonesia dalam bidang pertanian. Sebagai konsekuensi dari tata letaknya yang berada dekat sekali dengan garis katulistiwa, evaporasi yang tinggi dan terbatas air yang tersedia menyebabkan tanaman menjadi stress dan menjadi layu suatu ketika. Untuk mengatasinya, petani dan praktisi pertanian dapat menggunakan beberapa cara untuk mendekatkan air pada tanaman dan untuk memanen air ketika hujan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162