Loading...

Mengintip Peluang Investasi di Beranda Indonesia

13:26 WIB | Tuesday, 20-December-2016 | Sorotan | Penulis : Ahmad Soim

Wilayah perbatasan menjadi beranda Indonesia dengan negara tetangga. Sayangnya, daerah tersebut tak pernah dilirik menjadi salah satu tempat investasi yang menguntungkan. Seperti apa peluang investasinya?

 

Sesuai Rancangan Pembangun­an Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 peme­rintah mempersiapkan wila­yah perbatasan dan transmigrasi sebagai basis komoditi pertanian unggulan. Bahkan wilayah per­batasan diharapkan menjadi lum­bung pangan dan pintu ekspor produk pertanian.

Pembangunan wilayah ping­giran memang menjadi salah satu cita-cita pemerintah. Dalam Nawa Cita ketiga secara gamblang diungkapkan, “Membangun In­do­­nesia dari pinggiran dengan mem­perkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.”

Jika melihat potensi sumberdaya alam di daerah perbatasan, pe­luang investasi memang cukup besar. Potensi tersebut menjadi modal utama bagi semua pihak, bukan hanya investor yang ingin menanamkan modalnya, tapi juga bagi pemerintah daerah.

Menyambut rencana pengem­bangan wilayah perbatasan ter­sebut, Kementerian Pertanian mencanangkan Program Mem­bangun Lumbung Pangan di Wilayah Perbatasan. “Wilayah per­batasan didorong untuk mampu swasembada padi, jagung, cabai, bawang merah dan komoditas lain­nya tergantung dari potensi di wilayahnya,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, beberapa waktu lalu.

Amran mengakui, potensi pengembangan pertanian di wilayah perbatasan terbuka lebar. Bukan hanya potensi lahan yang masih luas, tapi juga peluang pemasukan devisa negara melalui ekspor sangat tinggi. Daerah-daerah pinggiran tersebut diha­rapkan mampu memproduksi pangan sendiri dan menyediakan pangan murah. “Selama ini kebu­tuhan pangan di daerah perbatasan selalu didatangkan dari daerah lain, sehingga harga pangan cenderung lebih mahal,” katanya.

Amran menceritakan, saat sedang berkunjung ke Kepulauan Riau (Kepri), tepatnya di Kabupaten Lingga, beras yang dikonsumsi masyarakat berasal dari Sulawesi Selatan. Karena jaraknya sangat jauh, tak heran harga beras sangat tinggi. Padahal kebutuhannya se­banyak 12 ribu ton/tahun.

Dengan potensi lahan seluas 10 ribu ha untuk pengembangan sawah, Amran menilai, harusnya wilayah tersebut tidak perlu ‘impor’ beras dari Sulawesi Selat­an, tapi bisa memproduksi sendiri. “Kalau dihitung-hitung dengan luas 10 ribu ha dan dua kali tanam, Kabupaten Lingga dapat menghasilkan 150 ribu ton/tahun. Karena kebutuhannya hanya 12 ribu ton/tahun, sehingga ada kelebihan dan bisa kita ekspor ke Singapura,” tuturnya.

Untuk pengembangan pa­di di wilayah perbatasan, Am­ran me­nyarankan agar mem­budi­daya­kan padi organik. Sebab, per­mintaan beras jenis tersebut dari Singapura dan Malaysia cu­kup besar dan harganya juga tinggi. Misalnya, beras organik asal Tasik­malaya laku dijual ke Belgia seharga 6 EURO atau sekitar Rp 90 ribu/kg.

Kesempatan Besar

Sementara itu Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo mengatakan, banyak contoh desa tertinggal yang kini mandiri, meski tanpa bantuan APBN. Contohnya, salah satu desa di Klaten, Jawa Tengah yang sebelumnya tertinggal, tapi dengan kreatifitas kepala desa kini desa tersebut bisa mandiri. “Jadi banyak kesempatan untuk investasi di desa, termasuk di pertanian dan pariwisata,” katanya.

Eko berharap dengan masuknya pemilik modal di wilayah per­batasan akan berdampak ganda terhadap perkembangan sektor lain. Karena itu diharapkan pemerintah daerah perbatasan memberikan insentif dan kemudahan untuk menarik investor agar bersedia me­nanamkan modalnya. Misalnya, peraturan  daerah mengenai in­sentif pajak dan retribusi daerah.

Di Indonesia terdapat 74 ribu lebih desa yang memiliki keunikan dengan hampir 80% mata pen­cahariannya adalah bercocok ta­nam. Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi mempunyai ang­garan untuk desa tahun 2016 sebesar Rp 47 triliun. Artinya tiap desa akan mendapatkan jatah Rp 680 juta.  Anggaran tersebut akan bertambah tiap tahun. Bahkan tahun 2019, rencananya menjadi Rp 111 triliun.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162