Loading...

Meningkatkan Martabat Buruh Kebun

13:25 WIB | Monday, 19-June-2017 | Agri Wacana, Agri Wacana | Penulis : Kontributor

Oleh : Entang Sastraatmadja

 

Derita kaum buruh merupakan gambaran nyata dari wajah pekerja di negara kita yang kualitas kehidupannya masih memprihatinkan. Setiap ada kesempatan untuk memperbaiki suasana hidup, mereka pasti akan rame-rame ke DPR. Unjuk rasapun kini mengedepan menjadi "trade mark" yang melekat pada citra dirinya.

 

Persoalan yang harus kita angkat adalah mengapa mereka harus terus-terusan menggelar demo? Apakah tidak ada cara lain yang dapat dilakukan oleh kaum buruh dalam memperjuangkan perbaikan harkat dan martabatnya? Ataukah gelar unjuk rasa adalah satu-satunya cara ampuh guna memperjuangkan nasib mereka? Begitulah potret buruh di tanah merdeka, yang suka atau tidak suka harus kita vonis selaku warga bangsa yang belum merdeka.

 

Mereka turun ke jalan, bukanlah tanpa harapan. Selaku warga negara yang berpribadi, para buruhpun mendambakan suasana hidup sejahrera. Mereka ingin mempertontonkan kepada segenap warga dunia bahwa di atas negeri yang telah 71 tahun merdeka ini ternyata masih ditemukan adanya anak bangsa yang terlilit kemiskinan, terjebak kemelaratan dan terjerembab dalam lumpur kesengsaraan.

 

Benarkah sekarang ini semakin banyak pengusaha yang terjerat utang? Benarkah banyak pengelola perusahaan negara yang sudah tidak mampu lagi menggaji pegawainya? Memilukan sekali. Jika benar begitu.

 

Dari sekian banyak kaum buruh di negeri ini, ternyata yang disebut dengan "buruh perkebunan", boleh dibilang sebagai potret buruh yang memiliki suasana hidup paling mengenaskan. Bukan saja mereka terjebak oleh warisan masa lalu, di mana ketika itu budaya patrimonial tumbuh subur, ternyata dari sisi pendapatanpun terjadi kejomplangan yang sangat tinggi.

 

Pimpinan perusahaan terlihat menikmati sedapnya hasil produksi sekaligus mengendarai mobil mewah di atas 2500 CC, namun para buruh kebunnya sendiri tampak sedang menggelepar menikmati teknologi yang sangat sederhana. Ironi kehidupan semacam ini memang telah lama berlangsung. Anehnya, mengapa di antara kita tidak ada yang berani melakukan penggugatan atas kondisi yang tercipta selama ini.

 

Hasrat untuk memberdayakan dan memartabatkan buruh perkebunan negara, sebetulnya sudah membahana sejak lama. Ketimpangan pendapatan antara Direksi dengan buruh telah juga dihitung dengan cermat. Pertanyaannya adalah mengapa suasana yang tercipta, seperti yang tidak mengalami perubahan? Mengapa kualitas kehidupan buruh perkebunan di negeri ini seperti yang jalan di tempat? Dan yang lebih utama untuk dipikirkan adalah solusi cerdas seperti apa yang sebaiknya kita hasilkan agar terjadi peningkatan kesejahteraan buruh perkebunan?

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162