Loading...

Menko Perekonomian: Persoalan Harga Pangan Tak Sebatas Produksi

17:05 WIB | Monday, 05-December-2016 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Julianto

Gejolak harga pangan kerap saja terjadi. Bukan hanya menjelang Hari Besar Keagamanan, tapi juga pada waktu-waktu tertentu. Namun Menko Perekonomian, Darmin Nasution menilai, persoalan harga pangan bukan semata-mata dipengaruhi faktor produksi, tapi sangat dipengaruhi juga faktor distribusi.

 

Menurutnya, komoditas pangan tidak semua dapat tahan lama disimpan. Karena itu, saat bukan musim produksi akan terjadi kelangkaan stok. Akhirnya menyebabkan harga naik. Dia mencontohkan, komoditi cabai tidak sama dengan bawang merah. Cabai tidak tahan lama atau cepat busuk, sehingga cepat terjadi kekurangan stok di pasar dan harga naik.

 

“Sementara bawang merah bisa tahan lama disimpan di gudang pendingin, sehingga stok dan harganya bisa normal lama,” katanya sidak ke Pasar Induk Pasir Hayam, Cianjur untuk mengecek harga pangan. Sidak juga dihadiri Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman dan Menteri Perdagangan Enggartyasto Lukita. Usai Sidak, ketiga menteri me-launching integrasi Sistem Resi Gudang (SRG) dan pasar lelang komoditas dalam rangka meningkatkan akses pasar.

 

Hadir pada kegiatan ini Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heriawan, Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman, Direktur Utama PT Pertani, Wahyu, Direktur Logistik dan Distribusi Perum Bulog dan perwakilan Otoritas Jasa Keuangan, Deputi pada BI, Dirut PT Pos dan Dirrut Bank BJB.

 

Saat sidak, harga beras termurah sebesar Rp 7.600/kg, beras medium Rp 8.000/kg, beras premium (IR 64) Rp 10.000/kg. Sementara harga daging sapi beku Rp 80.000/kg, daging segar sapi lokal Rp 105.000/kg hingga Rp 110.000/kg, daging ayam Rp 30.000/kg, Bawang Merah Rp 27.000/kg, cabai kriting Rp 50.000/kg, dan cabai merah Rp 40.000/kg.

 

Karena itu menurut Darmin,  untuk menjaga stok saat bukan musim panen dan harga stabil yakni dengan perbaikan sistem logistik pangan. Langkahnya dengan membangun gudang pendingin dalam jumlah yang memadai. Selain itu, penyediaan mesin pengeringan (dryer) agar nilai jual komoditas pangan yang dihasilkan petani tinggi dan memperbanyak pembangunan pasar pengepul.

 

“Jadi, pemerintah tidak akan mengimpor komoditas pangan khususnya cabai dan bawang merah. Bagaimana mau impor, produksi di luar negeri pun tidak ada. Untuk itu, yang dilakukan pemerintah saat ini memperbaiki sistem logistik pangan,” tegasnya.

 

 

 

Perbaiki Sistem Resi Gudang

 

Terkait penerapan integrasi sistem regi gudang dan pasar lelang komoditas, Darmin menekankan perlunya memantau dan mendorong supaya tidak hanya integritas dan ketekunan, tapi kontinuitas dalam mengurusnya.  Sehingga hasilnya benar-benar dapat memberdayakan petani dan efisiensi perdagangan.

 

“Jadi soal sistem resi gudang ini sudah ada sejak 30 tahun lalu, sehingga kelemahan resi gudang sudah diperhitungkan. Untuk itu, resi gudang yang luncurkan sekarang harus mampu berhasil dengan belajar dari masa lalu,” ujarnya.

 

Sementara itu Mendag, Enggartyasto mengatakan, harga pangan memang bukan sepenuhnya dipengaruhi biaya produksi yang tinggi. Tapi disebabkan juga terlalu banyaknya pemain perantara, sehingga rantai pasok menjadi panjang dan akhirnya menyebabkan harga tinggi.

 

Untuk itu menurutnya, persoalan besar petani yakni terkait akses pasar dan permodalan. Saat ingin mendapatkan kredit usaha rakyat (KUR), sistem perbankan menuntut jaminan yang lebih sulit sehingga petani tidak bisa mendapatkan KUR.

 

Untuk itu pemerintah meluncurkan resi gudang, menjadi istrumen jaminan mendapatkan pinjaman bank. Saat ini bank yang siap membiayai resi gudang yaitu BRI dan Bank Jawa Barat. “Namun dua bank ini tidak cukup, kami terus berupaya agar bank-bank lain dapat tertarik juga,” tuturnya.

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162