Loading...

Mentan Minta Rusia Bantu Tepis Kampanye Hitam Sawit

14:24 WIB | Friday, 08-June-2018 | Nasional | Penulis : Tiara Dianing Tyas

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman bersama Dubes Rusia untuk Indonesia (berbaju biru) kerjasama tangkis kampanye hitam sawit

Kampanye hitam soal sawit membuat gerah hampir seluruh negara produsen minyak nabati tersebut, seperti Indonesia. Karena itu, dukungan dari negara tujuan ekspor sawit seperti Rusia sangat diharapkan bisa menangkisnya.

 

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobyeva beserta rombongan menyambangi Kantor Pusat Kementerian Pertanian untuk menemui Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman membicarakan kerjasama bilateral terkait komoditas ekspor impor dan membahas isu kampanye hitam kelapa sawit Indonesia, Jumat (8/6) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian.

 

“Masalah sawit yang menjadi perhatian Kami, dimana biasanya dari negara eropa ada kampanye hitam, Kita minta untuk ditepis sehubungan dengan palm oil dari Indonesia. Kami sampaikan pendekatannya bukan hanya saja lingkungan hidup, deforestasi (perambahan hutan), tapi juga kesejahteraan masyarakat. Ada 30 juta orang yang tergantung pada sawit,” jelasnya.

 

Amran menambahkan, jika dilakukan kampanye hitam di negara Eropa otomatis harga kelapa sawit bisa turun. Dan ini secara tidak langsung berdampak pada kerusakan lingkungan. Masyarakat bisa membabat hutan (tanaman kelapa sawit) karena harganya yang turun. Namun jika harga stabil maka kondisi akan membaik. Beberapa negara eropa sudah mengerti hal tersebut.

 

Untuk tahun ini, Indonesia direncanakan mengekspor sawit ke Rusia sebanyak 800 ribu ton. Untuk diketahui, Volume ekspor kelapa sawit Indonesia ke Rusia pada 2017 sebanyak 613.978.823 kg (614 ribu ton) atau senilai US$ 440.669.570 (440 juta dollar).

 

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobyeva mengatakan Rusia membeli kelapa sawit dari Indonesia karena produksinya  yang banyak. Ia menegaskan bahwa negaranya tidak melakukan kampanye hitam terhadap kelapa sawit Indonesia.

 

Selain kelapa sawit, Indonesia akan bekerjasama memperkuat CPO, manggis, salak dan lainnya. “Kami sudah membeli produk prertanian lainnya seperti karet, kopi, kakao dan lainnya. Kami sangat terbuka untuk buah Rusia masuk ke Pasar Rusia,” pungkasnya. Hal tersebut dikarenakan Rusia merupakan negara dengan iklim yang cukup sejuk dan tidak ada buah topis.

 

Sedangkan untuk Rusia, kerjasama ini juga mempermudah negara yang berjuluk Beruang merah untuk memasukkan gandum ke pasar Indonesia. Catatan tahun 2017, Rusia memasukkan sekitar 1.222.124.752 kg (1,2 juta ton) atau senilai US$ 246.190.012 (240 juta dollar). "Kami ingin dan siap juga memasukkan kacang kedelai, barley, dan lainnya," tutup Lyudmila. (tia/gsh)

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162