Loading...

Mentan: Ubah Paradigma Pertanian dengan Mekanisasi

16:12 WIB | Thursday, 01-March-2018 | Sarana & Prasarana, Non Komoditi | Penulis : Julianto

Menteri Pertanian (kanan) bersama Menristek Dikti (kiri)

 

 

Pertanian di Indonesia harus berubah paradigmanya, dari tradisional menuju modern. Karena itu pertanian tidak akan maju tanpa adanya mekanisasi.

 

“Sebagai negara agribisnis, hampir 60% pertanian Indonesia dikelola secara tradisional,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang didampingi Menteri Ristek dan Dikti, Mohammad Nasir saat melihat rencana pengembangan kawasan saint pertanian modern di areal Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, di Serpong, Kamis (1/3).

 

Untuk itu kata Amran, paradigma pembangunan pertanian harus berubah dari tradisional menjadi modern. Salah satu caranya adalah dengan mendorong mekanisasi pertanian.

 

Dengan pengembangan mekanisasi pertanian banyak keuntungan yang bisa didapat. Misalnya, penggunaan combine harvester (alat mesin panen). Jika secara tradisional dengan menggunakan sabit, maka untuk luasan 1 hektar (ha) perlu waktu 3 minggu hingga 1 bulan. Sedangkan menggunakan combine harvester hanya perlu waktu 1-2 hari.

 

Keuntungan lainnya adalah mengurangi kehilangan panen. Jika dengan cara tradisional, kehilangan panen bisa mencapai 10,2%, maka dengan combine harvester kehilangan panen bisa ditekan sedikit mungkin atau hanya sekitar 0,2%.

 

Penggunaan tenaga kerja juga berkurang. Jika biasanya memerlukan tenaga kerja dalam 1 ha sebanyak 5 orang, maka penggunaan alsintan hanya perlu 1 orang. “Artinya apa? Kita bukan hanya menghemat waktu panen, tapi mempercepat tanam kembali, mengurangi penggunaan tenaga kerja dan kerugian karena kehilangan hasil,” katanya.

 

Hitungannya, jika volume kehilangan mencapai 10% yang bisa ditekan, maka dengan dengan produksi gabah sekitar 70 juta ton gabah kering giling (GKG) akan ada 7 juta ton gabah yang diselamatkan. Dengan harga gabah Rp 4 ribu/kg, nilai yang bisa diselamatkan mencapai Rp 28 triliun.

 

Sementara itu Kepala BB Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BPP Mektan), Balitbang Pertanian, Andi Nur Alamsyah mengatakan, untuk mendorong pengembangan mekanisasi, pihaknya mengembangkan kawasan sains dan enjinering pertanian modern, serta membangun politeknis pembangunan pertanian di Serpong. Dalam pengembangan kawasan tersebut, BBP Mektan bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

 

Pengembangan kawasan ini akan dimulai dengan pembangunan lembaga pendidikan politeknik yang disinergikan dengan kegiatan penelirian, perekaysasa dan pengembangan enjienering pertanian. “Kita mengubah kawasan ini menjadi lebih modern karena lokasinya dekat dengan BSD yang juga pembangunannya makin maju,” katanya.

 

Sementara itu M. Nasir mengatakan, pihaknya memang tengah melakukan revitalisasi tempat riset. Salah satunya dengan mengembangan kawasan riset berupa kawasan ekonomi khusus untuk pendidikan. “Kami menyambut baik kolaborasi dengan Kementerian Pertanian. Kementerian Ristek dan Dikti. Kami juga berharap peneliti di Kementan ada kolaborasi dengan peneliti di perguruan tinggi, termasuk peneliti asing,” ujarnya. Yul

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162