Loading...

Menteri Amran : Tidak Ada Alasan Harga Beras Naik, Karena Parameter Masalah Sudah Teratasi

14:39 WIB | Friday, 14-September-2018 | Pangan | Penulis : Gesha

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman menegaskan jika tidak ada alasan harga untuk naik (Dok. Humas Kementan)

Kekhawatiran berbagai pihak khususnya pengusaha akan bergejolaknya harga beras hingga akhir tahun 2018 dan merembet hingga awal tahun 2019. Namun hal tersebut dipatahkan oleh Menteri Pertanian, Amran Sulaiman.

 

"Tidak ada alasan harga beras naik, karena parameter untuk menaikkan harga tidak ada. Gudang penuh, panen jalan terus, beras impor belum ada yang keluar. Itu menunjukkan stok nasional aman produksi aman," tukas Menteri Pertanian, Amran Sulaiman saat melakukan sidak supply beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jumat (14/9).

 

Menteri Amran memaparkan jika dahulu, harga naik karena stok kurang, panen kurang ditambah dengan musim kering yang melanda dengan tidak ada solusi. "Ini sudah selesai semua. Stok banyak, gudang penuh, panen OK tidak ada masalah," tuturnya.

 

Lebih jauh Menteri Amran mengungkapkan bahwa kondisi produksi padi di musim kemarau saat ini jauh berbeda dengan musim kemarau tahun-tahun sebelumnya. Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan berbagai teknologi yang memungkinkan petani tetap produktif di musim kemarau.

 

“Kami harus yakinkan produksi di musim kemarau tetap berjalan dengan baik. Paradigma lama memang menyebutkan di musim kemarau produksi berkurang. Sekarang sudah ada paradigma baru bahwa dengan teknologi baru, kita bisa meningkatkan tanam di musim kemarau hingga dua kali lipat. Sebelumnya hanya 500 ribu hektare, sekarang bisa meningkat menjadi 1 juta hektare,” tutur Amran.

 

Untuk tetap menjaga petani tetap produktif di musim kemarau, Kementan bersinergi dengan kementerian/lembaga lain untuk membangun infrastruktur pengairan. Bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Kementan memfasilitasi pembangunan embung, irigasi, dan sumur. “Kami juga telah mengirimkan puluhan ribu bantuan pompa air ke seluruh wilayah Indonesia,” tandas Amran.

 

Semuanya dilakukan agar pertanaman bulan Juli Agustus September bisa memenuhi kebutuhan masyarakat maka November- Desember-Januari tidak ada panceklik. "Itu sudah kita selesaikan," tukasnya.

 

Pengadaan Bulog

 

Kenaikan harga beras di tingkat hilir juga disinyalir karena harga gabah di Pulau Jawa kini sudah mencapai Rp 5 ribu- Rp 5500 per kilogramnya. Padahal bila dibandingkan pada kondisi normal, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp 3,700 per kg. Sementara harga GKP di pasaran saat normal sekitar Rp 4 ribu perkg.

 

Namun, Menteri Amran mengaku tidak khawatir karena petani bisa merasakan harga yang lebih tinggi daripada biasanya. "Tapi kita himbau juga untuk mereka setor sebagiannya ke Bulog untuk stok ketersediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melalui upaya Serap Gabah (Sergap)," tuturnya.

 

Direktur Pengadaan Bulog, Bachtiar menyebutkan pihaknya melakukan pengadaan dalam negeri di tahun ini sudah mencapai 1,5 juta ton "Digunakan untuk bantuan rastra, bencana alam, maupun operasi pasar, seperti yang sekarang dilaksanakan," tuturnya.

 

Untuk diketahui, jumlah pengadaan dalam negeri setiap tahunnya berkisar antara 1,5 – 2 juta ton setara beras, sekitar 5 – 7% dari total produksi/tahun atau sekitar 20-25% dari surplus yang dipasarkan petani selama bulan Maret – Mei.

 

Dengan karakterisik produksi gabah yang tidak sama antar waktu dan antar tempat, maka pengadaan gabah BULOG mengikuti pola produksi tersebut. Jumlah pengadaan BULOG sebagian besar (70%) dilakukan di daerah produsen (Jawa dan Sulsel) dan sebagian besar (60%) dilakukan selama panen raya (Januari - Mei).

 

 

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162