Loading...

Minim Keterlibatan BUMN dan Swasta dalam Penelitian Pertanian

14:30 WIB | Monday, 17-October-2016 | Teknologi, Iptek | Penulis : Julianto

Kepala Badan Litbang Pertanian, M. Syakir (tidak bertopi) bersama profesor riset

Keterlibatan perusahaan, baik yang berplat merah (BUMN) maupun hitam (swasta) di Indonesia dalam penelitian pertanian terbilang masih minim. Berbeda dengan negara maju, perusahaan milik negara dan swasta justru menggelontorkan anggaran sangat besar untuk menghasilkan riset terbaru.

 

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian, Kementerian Pertanian, M. Syakir mengatakan, keterlibatan dana penelitian pemerintah dibanding swasta masih jauh lebih besar. Saat ini sekitar 75% dana penelitian berasal dari pemerintah dan 25% dari swasta.

 

“Sebaliknya  di negara maju, dana penelitian kalangan swasta jauh lebih besar,” katanya saat sambutan orasi profesor riset di Auditorium Ir. Sadikin Sumintawikarta, Bogor, beberapa waktu lalu.  Profesor riset yang memberikan orasi yakni, Prof. Dr. Ir. Suwarno, M.S bidang pemuliaan dan genetika tanaman) dan Prof. Dr. Ir. Meldy Leonardy Anderson Hosang, Msi bidang hama dan penyakit tanaman.

 

Data menyebutkan, Indonesia baru mengalokasikan  sekitar 0,2% dari PDBnya untuk riset. Bandingkan dengan Korea Selatan yang mengalokasikan anggaran penelitian sekitar 4,3% dari PDB negaranya.

 

Meski anggaran terbatas, menurut Syakir, penelitian masih bisa dilakukan dengan efektif. Terlihat dari berbagai inovasi teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian. “Dari sisi daya saing penelitian Indonesia dengan negara lain cukup baik, tapi memang dalam penerapan di lapangan masih lemah,” katanya.

 

Namun diakui, sorotan terhadap produktivitas riset serta peran riset dalam pembangunan nasional menjadi tanda tanya besar. Termasuk juga dalam regenerasi peneliti. Saat ini rata-rata penelitian sudah berumur di atas 45 tahun.

 

“Dengan permasalah tersebut dan besarnya peran penelitian, merupakan momentum dalam pembenahan secara menyeluruh bersama lembaga penelitian lain, seperti LIPI dan Litbang kementerian lain,” katanya.

 

Untuk menggandeng lembaga penelitian lain, Balitbang Pertanian menggagas pembentukan konsorsium penelitian. Idenya adalah untuk meningkatkan efektifitas dana penelitian. Apalagi masing-masing lembaga penelitian mempunyai kelebihan, sehingga jika disatukan menjadi kekuatan yang besar. Kini Balitbang Pertanian sudah meneken kerjasama dengan 25 lembada penelitian di perguruan tinggi, lembaga riset LIPI, BPPT dan BATAN.

 

Karena itu kata Syakir, terbatasnya keterlibatan swasta dan BUMN merupakan titik awal yang perlu dicermati bersama, baik itu terkait dengan peraturan perundangan yang belum sepenuhnya mendukung ke arah itu. Begitu juga mekanisme perencanaan serta keterbukaan lembaga riset terhadap kedua lembaga ini.

 

“Dengan keluarnya Peraturan Menteri Keuangan 106 tahun 2016 tentang Standar Biaya Keluaran Tahun Anggaran 2017 diharapkan makin mempermudah dibangunnya jejaring kerja antar lembaga serta pihak swasta dan BUMN,” katanya.

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162