Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Minimalisasi Dampak Kekeringan

11:07 WIB | Thursday, 06-September-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Minimalisasi Dampak Kekeringan

 

Musim kemarau  diprediksi mencapai puncaknya Agustus dan September 2018 ini. Untuk meminimalisasi dampak kemarau yang menyebabkan kekeringan, pemerintah sejak dini telah mengantisipasi, termasuk dalam menerapkan teknologi budidaya.

 

Kekeringan ibarat tamu yang datang tiap tahun menemui petani. Ancaman kekeringan terhadap lahan sawah memang tidak bisa dihindari. Faktor utama yang menyebabkan kekeringan memang berkurangnya curah hujan. 

 

Berdasarkan data Badan Me­teorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terjadi penu­runan signifikan curah hujan pada Juni-Agustus 2018 dibandingkan curah hujan tahun 2017 yang lebih fluktuatif. Penurunan terbesar pada Agustus 2018 sebesar 32.21 (mm), sedangkan pada Agustus 2017 masih sebesar 138.47 (mm).

Data Direktorat Perlindungan, Ditjen Tanaman Pangan, di­bandingkan luas tanam pada Januari-Agustus 2018 yang men­capai 10.029.891 ha, maka dampak kekeringan masih kecil karena yang terkena hanya 1,34% (135.226 ha). Dari luasan itu, yang puso hanya 0,26 % atau 26.438 ha.

Selain terjunkan tim khusus langsung ke lapangan, Kementan juga sudah membentuk posko penanganan kekeringan. Ber­dasarkan data Ditjen Tanaman Pangan, areal persawahan yang terkena kekeringan hingga per­tengahan Agustus 2018 seluas 127.101 ha, dan Puso 25.405 ha. Kekeringan terbesar terjadi pada bulan Mei hingga Juli 2018, yang terkena seluas 87.827 ha dan sampai terjadi puso seluas 22.153 ha. Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi provinsi yang paling terdampak kekeringan.

Persentase puso di Pulau Jawa mencapai 1,42% dan di luar Jawa 0,19%, sehigga secara nasional lahan sawah terkena puso hanya 0,69%. Karena itu dampak puso masih sangat kecil dibanding dengan luas tanam yang ada, sehingga tidak akan mengganggu produksi nasional. 

Bahkan luasan lahan yang terancam kekeringan masih bisa berkurang jika di lokasi tersebut masih memiliki air sedikit dan dilakukan pompanisasi. Untuk memelihara optimisme produksi padi 2018, Kementerian Pertanian telah melakukan berbagai upaya menghadapi kekeringan. Apalagi kemarau memang fenomena iklim yang berulang tiap tahun. 

Untuk penanggulangan ke­keringan, dalam jangka pan­jang Kementerian Pertanian telah melakukan program per­baikan irigasi, bantuan alsintan, pembangunan embung, pengem­bangan tata air mikro di lahan rawa dan pasang-surut dan bantuan benih tahan kekeringan, serta pompa air. Puluhan infrastruktur besar berupa bendungan juga tengah dibangun di berbagai daerah. 

“Kekeringan sangat kecil dampaknya, bahkan sebaliknya kekeringan menjadi peluang kita karena lahan rawa yang biasanya terendam justru berproduksi dengan sempurna,” kata Dirjen Tanaman Pangan, Sumardjo Gatot Irianto.

 

Tim Khusus

Bukan hanya itu, pemerintah juga menerjunkan tim khusus untuk memantau kondisi ancaman kekeringan. Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementerian Pertanian Pending Dadih Permana mengatakan, tim khusus ini telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk melakukan pemetaan dan mitigasi terhadap daerah sentra produksi pertanian. 

“Kami turunkan tim khusus untuk berkoordinasi dengan pihak terkait, seperti TNI, Kementerian PUPR, serta Pemerintah Daerah dalam memetakan permasalahan,” katanya. 

Pending mengatakan, pem­berian air irigasi difokuskan dan diprioritaskan terhadap wi­layah-wilayah yang berpotensi akan mengalami gagal panen. Penerapan jadwal gilir giring atau membagi jadwal pengairan yang sudah disusun di tingkat daerah akan diawasi secara ketat. Hal ini dilakukan agar lahan pertanian yang rawan kekeringan mendapatkan pasokan air yang cukup.

Bahkan, ungkap Pending, pihaknya melibatkan TNI dalam pelaksanaan piket petugas pada tiap lokasi ‘bangunan bagi’ pada sistem irigasi. Hal ini guna menghindari pengambilan air secara ilegal pada saluran bagian hulu. “Masyarakat dan seluruh aparat juga didorong untuk bergotong royong membersihkan sampah yang terdapat pada saluran irigasi,” tambahnya.

Khusus untuk bantuan pompa air, tahun 2018 ini sudah tersebar bantuan pompa air ukuran kecil sebanyak 3.897 unit, pompa air ukuran sedang sebanyak 4.769 unit, serta pompa ukuran besar sebanyak 1.381 unit. “Kami meminta daerah untuk dapat menggerakkan bantuan pompa air ke wilayah yang masih memungkinkan untuk mengoptimalkan sumber daya air yang ada,” tutur Pending. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162