Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani : Musim Hujan, Proteksi Padi Sejak Dini

13:22 WIB | Monday, 05-February-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani: Musim Hujan, Proteksi Padi Sejak Dini

 

Musim hujan memang membawa berkah bagi petani, karena bisa memanfaatkan air untuk budidaya padi. Tapi di sisi lain, petani harus waspada terhadap munculnya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).

 

Mata Caya, petani padi di Desa Tegak Girang, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, berkaca-kaca saat mengingat musim tanam sebelumnya. Sebagian lahannya gagal panen, karena terserang penyakit yang berasal dari virus klowor. “Musim tanam lalu, lahan petani di sini banyak yang kena virus klowor, lahan saya yang terkena 2 bahu,” katanya kepada Sinar Tani saat memantau kondisi pertanaman padi di Indramayu, beberapa waktu lalu.

 

Bukan hanya kerugian akibat gagal panen. Pada musim tanam kali ini (musim hujan/MH 2017-2018) dirinya juga harus mengeluarkan biaya usaha tani lebih mahal untuk membeli obat-obat pencegah virus yang dibawa hama wereng batang cokelat tersebut. Hargnya mencapai Rp 180 ribu/bungkus.

Tak hanya Caya, petani di wilayah sentra produksi padi juga harus siaga satu mengantisipasi serangan hama penyakit pada musim hujan. Seperti dikatakan Rusmiyatun, Penyuluh Pertanian yang bertugas di Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, padi yang ditanam pada musim rendengan lebih rawan terkena serangan OPT. 

Jenis OPT yang kerap menyerang tanaman padi saat musim hujan adalah hama ulat atau sundep dan wereng batang cokelat (WBC). “Cara menangani hama ulat dan WBC bisa dilakukan sejak padi mulai ditanam. Jadi, dari jauh hari sebelum tanaman diserang, kami harus melakukan pengawalan. Ini sangat penting untuk mengetahui sebelum hama dan penyakit berkembang banyak,” kata Rusmiyatun.

 

Prediksi Serangan OPT 

Pada musim hujan, memang petani harus mewaspadai serangan hama penyakit. Pasalnya, beberapa OPT selalu menjadi ‘tamu’ tak diundang yang membuat kerugian cukup besar. Begitu juga pada musim tanam kali ini.

Balai Besar Peramalan Or­ganisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT), Jatisari, Karawang memperkirakan, luas serangan OPT utama padi (penggerek batang padi/PBP, WBC, tikus, tungro, blas, dan BLB) pada tanaman padi MT 2017/2018 mencapai 215.167,7 ha. Serangan tahun ini diperkirakan lebih tinggi dibandingkan angka kejadian serangan pada tahun 2017 yang hanya seluas 190.490,6 ha. 

Prakiraan luas serangan hama tertinggi pada MT 2017/2018 adalah WBC seluas 63.175,6 ha, disusul tikus 52.716,3 ha, dan PBP 45.207.2 ha, dan ulat grayak mencapai 63.175,6 ha. Sedangkan untuk penyakit prakiraan luas serangan yang tertinggi adalah BLB (kresek) seluas 27.272,4 ha, blas 22.390,3 ha, dan tungro 2.635,4 ha.

Menurut Kepala BBPOPT, Tri Susetyo, prakiraan serangan penggerek batang padi (PBP) yang tertinggi seluas 9.948 ha akan terjadi di Jawa Tengah. Serangan juga bakal terjadi di Jawa Barat, Sulawesi Tenggara, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Aceh. 

Sedangkan untuk serangan WBC, Tri mengingatkan, di wilayah Jawa Tengah menjadi terluas serangannya yakni mencapai 15.453,3 ha. Wilayah lainnya yang harus diantisipasi terjadi di Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Banten, Sumatera Utara dan Bali.

Begitu juga dengan serangan tikus pada MT 2018 yang paling tinggi akan terjadi di Sulawesi Tenggara seluas 14.179,4 ha. Daerah lainnya yang bakal terkena serangan yang luasannya lebih 1.000 ha adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat.

Tungro juga masih menjadi momok petani. Diperkirakan, daerah yang mengalami serangan tungro paling luas adalah Jawa Barat, seluas 767,3 ha. Daerah lainnya adalah Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan dengan luasan di atas 1.000 ha.

Serangan blas tertinggi diperkirakan terjadi di Jawa Barat, seluas 5.242 ha. Kemudian untuk serangan BLB (kresek) tertinggi juga bakal terjadi di Jawa Barat, seluas 7.657,7 ha. Selanjutnya, untuk serangan ulat grayak yang paling luas akan terjadi di Aceh seluas 284,7 ha.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162