Loading...

Pasar Terbuka, Petani Bergairah Tanam Jagung

11:15 WIB | Thursday, 12-July-2018 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Julianto

Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi jagung. Bahkan targetnya bukan hanya untuk mengisi pasar dalam negeri, tapi juga ekspor.

 

Berbagai upaya pun dilakukan. Salah satunya memperluas areal tanam dengan menumbuhkan sentra produksi jagung baru. Dari banyak wilayah di Nusantara sasaran pemerintah adalan Pulau Borneo, Kalimantan. 

 

Dari beberapa provinsi di Kalimantan, Provinsi Kalimantan Tengah menjadi salah satu yang kini giat mengembangkan tanaman jagung. Apalagi komoditas tersebut bisa menjadi penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bahkan Pemda Barito Utara, Kalimantan Tengah menargetkan tahun 2020 mendatang bisa menjadi sentra atau lumbung jagung di Kalimantan Tengah.

 

Jagung bisa menjadi komoditas unggulan di Barito Utara, lantaraan permintaan pasar cukup tinggi dan harganya saat ini berkisar Rp 2,5-3 juta/ton. “Apalagi, luas lahan yang tersedia di Barito Utara masih relatif terbuka,” kata Kepala Dinas Pertanian Barito Utara, Setia Budi saat menerima kunjungan  tim Upsus BPTP Kalteng dalam rangka optimalisasi Luas Tambah Tanam (LTT).

 

Dari Karet ke Jagung

 

Menurutnya, harga jual jagung yang cukup tinggi ditingkat petani Rp 3.000-3.200/kg juga mendorong masyarakat berani melakukan alih fungsi lahan perkebunan karet untuk ditanami jagung. Alasannya, selain saat ini harga komoditas karet terus menurun, pasar jagung juga kian terbuka. “Ini membuat masyarakat sangat bergairah untuk membuka lahan dengan tanaman jagung,” ujarnya.

 

Kabupaten Barito Utara saat ini tercatat sebagai daerah pemasok jagung terbesar di Kalteng dan Kalsel, khususnya untuk kebutuhan bahan baku pakan ternak di PT Comfeed di Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan. Saat mengunjungi salah satu sentra pengembangan jagung di Desa Rimba Sari, Kecamatan Teweh Tengah Tim Upsus BPTP Kalteng menyaksikan begitu luas hamparan lahan yang telah dibuka masyarakat untuk tanam jagung.  “Di desanya sudah hampir 100 ha lahan yang dialihfungsikan dari lahan perkebunan karet menjadi lahan pangan (jagung),” kata Suratmo, salah seorang petani.

 

Setia Budi mengatakan, pada tahun 2018 ada sekitar 1.650 ha lahan untuk pengembangan jagung yang tersebar di sembilan kecamatan dan sekitar 1.200 ha untuk pengembangan padi gogo pada Musim Tanam (MT) Oktober-Maret 2018/2019.

 

Untuk mendukung upaya tersebut menurut Budi, Pemda Barito Utara memperoleh bantuan dari  Pemerintah Pusat berupa tiga unit alat berat berupa dua eskavator dan satu buldozer untuk membuka lahan bagi pengembangan jagung, padi gogo serta jalan usaha tani.

 

Sementara itu BPTP Kalteng siap  mendukung peningkatan  produksi jagung dan padi di lahan kering Barito Utara dengan memperkenalkan teknologi budidaya dan penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) Jagung Bima URI 19, BIMA URI 20 dan NASA 29, serta teknologi Largo Super (Larikan Padi Gogo Super).

 

Menurut peneliti BPTP Kalteng, Susilawati, VUB yang telah dilepas Badan Litbang diyakini dapat meningkatkan produksi hingga dua kali lipatnya. Potensi yang dapat dihasilkan dari jagung hibrida Bima 19 dan 20 URI mencapai 12,5 ton/ha. Kelebihan lain VUb jagung ini adalah tahan terhadap penyakit bulai, toleran penyakit karat dan bercak daun, toleran kekeringan, tahan rebah akar/batang.

 

Varietas Bima 19 URI ini berasal dari persilangan antara hibrida silang tunggal G193//Mr14 sebagai tetua betina dengan galur murni Nei9008P sebagai tetua jantan. Termasuk golongan hibrida silang tiga jalur, memiliki umur panen 102 hari, perakaran yang kuat, tahan rebah, batang bentuk bulat, tinggi tanaman 213 cm, warna malai kuning muda dengan semburan jingga.

 

Ciri lainnya adalah warna biji kuning jingga, jumlah baris per tongkol 14-16 baris, kelobot menutup agak ketat. Keunggulan varietas ini adalah tahan penyakit bulai, karat daun dan hawar daun dan toleran kekeringan. Potensi hasil 12,5 ton/ha pipilan kering dengan rata-rata hasil 9,3 ton/ha pada kadar air 15%, bobot 1.000 biji 343 gram.

 

Sedangkan jagung Hibrida Nasa 29 atau Nakula Sadewa 29  ini memiliki kemampuan pengisian biji pada tongkol secara penuh dan kelobot tertutup sempurna, rendemen biji lebih dari 80%,  batang kokoh, tahan terhadap serangan hawar daun, penyakit bulai dan busuk tongkol. Yul/Ditjen PSP

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162