Loading...

Pasokan Bawang Merah Surplus, Kementan Gandeng Pelaku Usaha untuk Menyerap

15:32 WIB | Tuesday, 09-January-2018 | Hortikultura | Penulis : Clara Agustin

 

 

Pasokan bawang merah saat ini surplus. Beberapa wilayah non-sentra yang dikembangkan pemerintah menjadi sentra baru bawang merah turut panen.  

 

 

 

 

 

“Pasokan bawang merah kita saat ini berlebih. Harga di petani menjadi rendah, tetapi di pasar harganya tinggi. Bahkan naik hingga 80 persen,” kata Direktur Jenderal Hortikultura, Spudnik Soedjono saat acara Rapat Koordinasi Bawang Merah dengan Pelaku Usaha di Jakarta, selasa (9/1).

 

 

 

Agar ada harga yang sesuai antara petani dengan pasar, Spudnik meminta untuk para pelaku usaha (industri dan trader) untuk lebih menyerap pasokan bawang merah langsung dari petani dengan harga yang sesuai.

 

 

 

“Pasokan kan berlebih. Saya inginnya para pelaku usaha dapat menyerap lebih banyak lagi. Lalu harganya juga kalau bisa jangan kurang dari Rp 11 ribu per kg. Harga di petani pokoknya jangan sampai rendah sekali,” kata Spudnik.

 

 

 

Melihat dari daerah sentra seperti di Brebes, Spudnik mengatakan bahwa memang dari bulan Desember 2017 hingga bulan ini (Januari 2018) sedang puncaknya panen raya. Bahkan di sentra bawang di Demak (Jawa Tengah), panen seluas 3 ribu ha. “Ini memang sedang puncaknya panen raya, jadi pasokan bawang merah sedang tinggi. Harga di petani rendah, tembus hingga Rp 4 ribu per kg. Masuk pasar induk harganya Rp 11 ribu per kg, tapi ini yang saya heran, masuk pasar retail bisa sampai Rp 40 ribu per kg,” jelas Spudnik.

 

 

 

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik mengatakan bahwa pasokan bawang merah saat ini surplus 14 ribu ton. Wilayah sentra bawang merah dan wilayah yang sedang dikembangkan bawang merah semuanya panen, makanya hasilnya surplus. Selain itu, untuk ekspor memang sedang tidak ada permintaan karena negara-negara yang biasa mengekspor (Thailand, Vietnam dan Filipina) saat ini sedang panen juga. “Makanya yang kelebihan saat ini kami meminta ke pelaku industri dalam negeri untuk lebih banyak lagi menyerapnya,” kata Yasid.

 

Di bulan Januari 2018, diperkirakan total panen di daerah sentra mencapai 64.560 ton. Brebes 35.550 ton, Nganjuk 14.830 ton, Cirebon 4.970 ton, dan Demak 9.210 ton. Tetapi yang baru terserap 3,6 persen.

 

 

 

Berdasarkan hasil diskusi dengan 9 pelaku usaha, diperkirakan di bulan Januari ini akan ada penyerapan bawang merah di petani sebanyak 2.330 ton. Dengan harga belinya yang berbeda-beda.

 

 

 

PT Aman Buana dan CV Bawang Mas 99 menyerap 60 ton dari petani bawang di Nganjuk dan Probolingggo dengan harga Rp 10 ribu per kg. CV Atase Enterprise 75 ton dari petani bawang di Bima dan Brebes dengan harga Rp 10 ribu per kg. PT Wings Food (Prakarsa Alam Segar dan Karunia Alam Segar) akan menyerap 1.120 ton dari petani bawang di Nganjuk, Brebes dan Demak dengan harga Rp 10 ribu per kg. PT Juma Berlian Exim akan menyerap 75 ton dari petani bawang di Brebes dengan harga Rp 14 ribu per kg (super rogol). PT Indofood Sukses Makmur akan menyerap 1.000 ton dari petani bawang di Brebes, Nganjuk dan Cirebon dengan harga Rp 9.500 hingga Rp 10 ribu per kg. “Ini ada yang untuk industri dan untuk trader. Bahkan ada yang targetnya untuk ekspor,” tambah Yasid.

 

 

 

Memang melihat jumlah pasokan dan penyerapan oleh pelaku usaha masih kecil, tetapi diharapkan kedepannya akan ada penyerapan yang lebih tinggi. Seperti PT Indofood, biasanya menyerap bawang merah 30-40 persen dari petani binaannya (Brebes dan Nganjuk), tetapi rencananya akan ada penambahan penyerapan menjadi 40-50 persen. “Kami berharap pelaku usaha akan lebih banyak menyerap. Lalu langkah selanjutnya akan kita ekspor. Kami menargtekan di tahun ini (2018) akan ada ekspor bawang merah 10 ribu ton,” pungkas Yasid. Cla

 

 

 

  

 

 

 

 

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162