Loading...

Peluang Bioindustri Lalat Hitam Tentara Masih Terbuka Lebar

21:54 WIB | Thursday, 07-June-2018 | Inovasi Teknologi, Iptek | Penulis : Gesha

Agus Pakpahan, Komandan Lalat Tentara Hitam

Umumnya orang jijik jika berbicara mengenai lalat. Namun siapa sangka, lalat hitam (black soldier flies) memiliki peluang bioindustri yang masih terbuka lebar dan menunggu dikembangkan.

 

Seperti yang diungkapkan oleh Komandan Black Soldier Flies (BSF), Agus Pakpahan saat Forum Diskusi “Prospek Bioindustri Maggot BSF dan Bioflok sebagai Sumber Pakan dan Pupuk” di Kantor Tabloid Sinar Tani, Kamis (07/8).

 

Menurutnya, BSF bisa menjadi “obat” bagi bangsa tropika. Bukan sebagai penyembuh penyakit tetapi pencegah penyakit. “Lalat hitam ini bisa mengubah sampah organik dari peternakan, rumah tangga, pasar menjadi sesuatu yang lebih berguna. Dan sumber penyakit dari bangsa tropika datang dari sampah,” tukasnya.

 

Mantan Direktur Jenderal Perkebunan yang menjabat di era Presiden BJ Habibie hingga Megawati Soekarnoputri ini sudah lama meneliti manfaat dan peluang bioindustri dari lalat jenis ini. Dimulai dari alasan dibalik rendahnya IQ Indonesia hingga pengembangan industrinya.

 

Pada IQ manusia misalnya, salah satu alasan rendahnya intelegensia Indonesia dibandingkan bangsa lainnya karena kurangnya pasokan protein dalam menu harian masyarakat. “Kurangnya asupan protein karena harga ikan/ayam/bebek selalu meningkat akibat dari melonjaknya komponen fish meal dalam pakan. Padahal, dengan kadar protein yang sama bisa diperoleh dari BSF,” jelasnya.

 

Untuk diketahuii, Pupa (fase puasa larva) BSF terbukti memiliki kandungan protein 45 persen dan lemak 35 persen. Pupa tersebut ternyata sangat digemari ikan dan ayam. Berkat pupa, Agus bisa menekan biaya pakan ternak 30 hingga 50 persen.

 

 “Saya sudah lakukan pada kolam ikan koi, digunakan 100 persen larva BSF. Sedangkan untuk digunakan dalam pakan bebek, kita sudah bisa menghasilkan telur sebesar 150 gram dimana rata-rata telur bebek hanya 70 gram,” bebernya.

 

Tak hanya digunakan sebagai pakan, pengembangan BSF juga dilakukan untuk diolah menjadi pupuk hayati dan aplikasikan pada penanaman padi hemat air, tanpa pestisida serta pupuk anorganik. “Padi yang dihasilkan jadi padi organik. Tanah yang digunakan merupakan tanah berpasir dan ditanam secara minapadi dengan ditempatkannya parit/caren di sekeliling yang kemudian bisa ditebar ikan,” jelasnya.

 

Agus sendiri yakin jika sumber perubahan jaman ada pada insekta (serangga) dengan melihat sejarah di masa lalu. Dimulai oleh lebah madu yang sejak jaman Romawi sangat penting disamping garam dan rempah. Kemudian jaman berikutnya adalah ulat sutra yang hingga sekarang terkenal dengan Velcro. Lalu nanti ada lalat hitam (black soldier) yang diprediksi dapat mengubah jaman karena ragam manfaatnya.

 

Agus menambahkan jika masyarakat tidak perlu khawatir dan jijik dengan BSF ini karena lalat jenis ini bukanlah merupakan vector dari penyakit. “Dia tidak punya mulut, sungut. Bahkan beberapa penelitian sudah menunjukkan BSF mengandung senyawa antimikrobal,” tuturnya.

 

Karena itu, dirinya menganggap jika BSF memiliki multi manfaat yang berguna bagi lingkungan, bebas penyakit, hingga diperoleh asupan protein terbaik karena pakan yang terbaik.

 

Biokonversi

 

Pengembangan bioindustri lanjutan dari BSF adalah adanya biokonversi. Dimana, BSF mengurai sampah organik. Dengan sistem biokonversi, masyarakat bisa mendapatkan 3 produk utama yaitu larva sebanyak 10-20%, kompos padat 20-40% dan pupuk cair 30 % setiap harinya. “Untuk pupuk misanya masuk sampah organik sebanyak 1 ton, keluar 300 liter pupuk cair. Inilah power dari biokonversi dari sisa sampah organik,” tuturnya.

 

Sayangnya, hingga sekarang kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah organik maupun anorganik masih rendah. Karena itu, perlu peranan semua pihak untuk bisa mewujudkannya.

 

Namun, ternyata sudah ada beberapa industri besar yang sudah mulai investasi di bidang biokonversi ini melihat peluang yang masih terbuka lebar. “Ada 5 perusahaan yang terbesar untuk investasi biokonversi ini seperti PT Magot Indonesia Lestari, PT Alternative Protein Indonesa, PT Biocycle, PT Biokonversi Indonesia dan Forest For Life Indonesia Fund serta Pemda NTB,” paparnya.

 

Dengan melihat peluang dan multimanfaat dari BSF, Agus menyarankan agar Kementerian Pertanian menerapkan pemikiran pertanian yang berkelanjutan dengan membangun sistem sirkular tertutup antara Pertanian-Peternakan-Industri Pangan dengan menerapkan sistem biokonversi.

 

“Sampai pada membuat kebijakan yang mendorong investasi dalam bidang biokonversi dengan menghasilkan produk ganda, termasuk di dalamnya sumber protein alami yang berbasis antimikroba alami,” tutup Agus. (gsh)

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162