Loading...

Peluang Bisnis Minyak Atsiri

16:15 WIB | Saturday, 29-June-2013 | Mentan Menyapa | Penulis : Ahmad Soim

Pembaca. Petani di manapun Anda berada. Alhamdulillah, Indonesia merupakan salahsatu produsen utama minyak atsiri dunia. Sebanyak 85% kebutuhan minyak atsiri dunia dipasok dari Indonesia. Negeri kita menyimpan potensi yang sangat besar untuk industri minyak atsiri. Dari 80 jenis minyak atsiri yang selama ini diperdagangkan di pasar internasional, 40 jenis di antaranya dapat diproduksi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 13 jenis telah memasuki pasar atsiri dunia, yaitu nilam, serai wangi, cengkeh, jahe, pala, lada, kayu manis, cendana, melati, akar wangi, kenanga, kayu putih dan kemukus. 

Untuk tanaman serai wangi sendiri, dalam dunia perdagangan dikenal dua tipe minyak serai wangi, yaitu tipe Ceylon dan tipe Jawa (Indonesia). Mutu minyak serai wangi tipe Ceylon tidak dapat menyaingi mutu tipe Jawa. Salahsatu komoditas minyak atsiri lainnya yang paling laris manis adalah minyak atsiri dari nilam. Saat ini harga minyak nilam berkualitas baik berkisar pada 400.000 rupiah per kg-nya. Sementara harga nilam segar Rp. 1.000/kg. Di mana untuk 1 ha lahan rata-rata bisa menghasilkan 25 ton nilam basah. 

Pembaca, produksi serai wangi dan nilam tidak hanya digunakan untuk minyak atsiri saja. Serai wangi dan nilam juga bisa dijadikan bahan dasar sabun, obat anti nyamuk, pestisida bahkan bahan dasar bio additif, yang bisa bermanfaat untuk penghemat bahan bakar kendaraan. Dengan mencampurkan bio additif 1 militer ke dalam satu liter BBM, maka akan mampu menghemat penggunaan BBM 40 persen hingga 45 persen, meningkatkan tenaga mesin, membersihkan sistem pembakaran dari deposit karbon, menurunkan emisi gas buang. Tak hanya itu, tapi juga merawat mesin agar tetap bersih serta memberikan kenyamanan suara mesin dengan spesifikasi terbuat dari bahan alam (renewable) tanpa bahan sintetis.

Dan terkait dengan teknologi alternatif yang aman, minyak atsiri ini sebagai pengganti pestisida sintetik seperti minyak atsiri serai wangi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri serai wangi mampu menghambat perkembangan bahkan membunuh OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) target. 

Perlu kita ketahui juga bahwa ternyata limbah atsiri bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak dan pupuk organik. Limbah padat berupa ampas daunnya bisa digunakan sebagai pupuk tanaman. Sementara itu, untuk limbah cair (berupa sisa air bekas penyulingan) sedang diteliti untuk aroma terapi atau spa. 

Pembaca, pengembangan tanaman serai wangi dan pengolahan minyak atsiri ini jelas memiliki nilai positif yang sangat tinggi. Karena tidak hanya sekedar pengembangan pertanian, namun juga turut mengentaskan kemiskinan yang ada di desa-desa. Sebut saja, jika dalam sebulan mampu menghasilkan 150 kilogram hingga 200 kilogram. Produksi minyak serai wangi ini sangat jelas meningkatkan pendapatan, dan menekan angka kemiskinan.

Pengembangan pengolahan minyak atsiri di pedesaan ini tentu saja menjadi langkah strategis dalam memacu pertumbuhan perekonomian daerah, selain dapat meningkatkan kesempatan kerja, meningkatkan nilai tambah dan daya saing, serta pendapatan petani tanaman penghasil minyak atsiri. 

Oleh karena itu, Kementerian Pertanian mendorong pengembangan industri atsiri di Indonesia. Bentuknya berupa fasilitas-fasilitas untuk petani hingga pengusaha. Kami mengembangkan perbaikan varietas unggul, pemberdayaan petani, membantu unit pengolahan dan penangkaran bibit. Selain itu, kami juga mengapresiasi dan mendorong penelitian dan pengembangan untuk atsiri. Kami pun menggandeng Dewan Atsiri Indonesia untuk bersama-sama mengembangkan industri ini. 

Indonesia sebenarnya menyimpan banyak potensi bahan baku yang dapat menopang posisi Indonesia sebagai produsen utama minyak atsiri tertentu dunia, karena memang cukup banyak tanaman yang potensial untuk dikembangkan sebagai produk minyak atsiri, seperti bangle, cendana, gaharu dan kayu manis. 

Oleh karena itu saya sangat mendukung peningkatan daya saing minyak atsiri seperti dari perbaikan mutu, harga yang kompetitif, kontinuitas supply,  pembinaan yang terintegrasi, pemanfaatan teknologi tepat guna dan jelas, mendorong tumbuh kembangnya industri lanjutan. Semua demi kesejahteraan petani pada akhirnya.

 

Editor : Ahmad Soim

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162