Loading...

Pemerintah Ajak Petani Cabai Atur Waktu Tanam

15:57 WIB | Tuesday, 27-February-2018 | Hortikultura, Komoditi | Penulis : Clara Agustin

 

 

Cabai merupakan salah satu komoditas hortikultura yang harganya selalu berfluktuatif. Saat panen raya, harga merosot hingga ke level terendah. Tapi saat off season (tidak ada panen/panen sedikit), harganya mampu menembus hingga Rp 200 ribu/kg.

 

Karena itu, Direktur Jenderal Hortikultura, Spudnik Soedjono saat Konferensi Pers Kinerja Ditjen Hortikultura Tahun 2015-2018 di Jakarta, Selasa (27/2) mengajak, petani untuk mengatur waktu tanam. “Manajemen pola tanam ini sedang kita terapkan di seluruh pertanaman yang ada di Indonesia,” katanya.

 

Dengan manajemen pola tanam ini, tiap petani tidak diperbolehkan menanam serentak. Hal ini berbeda dengan padi yang harus tanam serentak. Jadi nantinya ada waktu-waktunya petani menanam.

 

Misalnya, petani di daerah A menanam cabai pada Januari, lalu mereka panen Maret/April. Kemudian petani di daerah B, mulai tanam Februari agar dapat panen April/Mei. Demikian seterusnya, sehingga panen tidak berlangsung serentak yang membuat harga jatuh.

 

“Dengan penerapan pola tanam, saya jamin tidak ada yang namanya fluktuasi harga karena tanam dan panennya sudah diatur, sehingga pasokan ke masyarakat cukup, tidak berlebih, tidak juga kurang,” tutur Spudnik.

 

Agar manajemen pola tanam ini dapat berjalan dengan baik, menurut Spudnik, memang harus ada yang mengawasi. Untuk itu, pemerintah sudah membentuk petani champion, yakni petani yang bermitra dengan pemerintah dalam mengatur pasokan dan harga.

 

“Petani champion ini memang bukan hanya budidaya saja, melainkan akan menerapkan serta mengawasi manajemen pola tanam kepada para petani cabai,” ujarnya.

 

Salah satu petani cabai asal Magelang yang tergabung di dalam Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondroadmojo mengatakan, penerapan manejemen pola tanam merupakan kunci stabilitas harga dan pasokan. Karenanya, seluruh petani cabai yang ada di wilayah Magelang, diminta untuk segera menerapkan manajemen pola tanam.

 

“Cabai ini tidak bisa dibudidayakan sepanjang tahun di tempat yang sama, karena akan mempengaruhi kualitas serta produksi. Jadi memang manajemen pola tanam sangat sesuai diterapkan untuk pertanaman cabai,” katanya.

 

Tunov menambahkan, rata-rata luas areal pertanaman cabai milik petani tidak sampai satu hektar, melainkan hanya 2.000 meter persegi. Sedangkan harga wajar cabai paling rendah di petani Rp 20 ribu/kg. Dengan harga tersebut, petani memiliki penghasilan bulanan kurang dari Rp 1 juta.

 

Untuk mendapatkan harga yang wajar minimal Rp 20 ribu/kg, manajemen pola tanam- solusinya. Jadi tidak ada yang namanya on season atau off season, tapi tiap bulan panen dengan produksi yang tidak berlebih. Cla 

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162