Loading...

Pemerintah Dorong Wanita Tani Berkorporasi

14:24 WIB | Friday, 29-September-2017 | Suara Tani, Kabar Penas KTNA XV 2017 | Penulis : Gesha

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPPSDMP) terus mencetak Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP) yang akhirnya bisa menjadi bentuk korporasi petani. Bahkan juga mendorong terbentuknya KEP dari kalangan wanita tani.

 

Penumbuhan dan pengembangan KEP menjadi upaya untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan petani (poktan, gapoktan maupun kelompok wanita tani) agar bisa melaksanakan usaha tani lebih berorientasi pasar. KEP tersebut bisa berbentuk koperasi pertanian, kelompok usaha bersama (KUB) maupun badan usaha milik petani lainnya. 

 

"Muaranya akhirnya memang bagaimana terbentuknya korporasi petani. Namun, korporasi petani dibentuk karena pilihan dari kelompok/gapoktan yang memadai sehingga manajemen usahanya lebih optimal lagi," ungkap Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Surachman Suwardi.

 

Untuk meningkatkan kapasitas KEP yang mumpuni menjadi bentuk korporasi petani, BPPSDMP menggelar Bimbingan Teknis Kelembagaan Ekonomi Petani dan Kelompok Wanita Tani di Bogor, Kamis (28/9).

 

"Kita akan tumbuh kembangkan KEP tersebut. Dimana KEP yang sudah lebih mandiri akan kita akuisi kegiatan usahanya dengan BUMDes," ungkapnya. Untuk diketahui, korporasi petani nantinya menjadi gabungan dari kelembagaan petani (gapoktan maupun KEP) dengan BUMDes. Hingga sekarang, kelembagaan ekonomi petani baru ada sebanyak 14.641 kelompok.

 

Bimbingan teknis kali ini pun menyasar kepada kelompok wanita tani (KWT) yang ada di daerah. Mengingat pengembangan ekonomi di perdesaan juga adanya peranan wanita yang bergerak di sektor pertanian. Untuk diketahui, berdasarkan data di Simluhtan, dari 556.766 poktan sebanyak 23.601 kelompok merupakan wanita tani. "KWT ini memberikan andil yang luar biasa terutama dari kinerja usaha yang sebagian besar sudah bagus," tuturnya.  

 

Tak hanya itu, KWT juga sudah terbentuk lama dan kini kita bangunkan untuk transformasi kelembagaannya. "Jangan sampai KWT, terus-terusan menjadi KWT. Ubah skala usahanya, harus menjadi kelompok usaha, harus menjadi perusahaan," tegasnya. 

 

Salah satu peserta Bimbingan Teknis dari Kabupaten Malang, Jatim, Rini Wahyu yang memimpin KWT Anggrek mengatakan, bimbingan teknis ini sangat berguna bagi kelompoknya untuk bisa lebih meningkatkan usahanya di bidang produksi sayuran organik. 

 

"Kita sebenarnya sudah pasok untuk beberapa swalayan dan pengolahan bubur bayi. Namun dengan ilmu disini kami berharap bisa punya plasma-plasma petani lainnya," tuturnya. Satu mimpi besar yang ingin dicapai Rini adalah menjadikan KWT Anggrek yang berbentuk industri pertanian lengkap mulai hulu-hilir khususnya untuk sayuran organik. Gsh

 

 

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162