Loading...

e Paper Tabloid Sinar Tani - Pemuda, Ayo Bangun Lumbung Pangan Dunia

08:52 WIB | Wednesday, 18-October-2017 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e Paper Tabloid Sinar Tani - Pemuda, Ayo Bangun  Lumbung Pangan Dunia

 

Misi pembangunan pertanian jangka panjang yang menginginkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045 bukanlah sejarah baru yang ingin dicetak bangsa Indonesia.

 

“Tugas saat ini hanya mengembalikan sejarah Indonesia sebagai lumbung pangan,” tutur Koordinator Nasional Gerakan Pemuda Tani Indonesia (Gempita), M. Riyada menjawab Tabloid Sinar Tani di kantornya.

 

Pemuda adalah mayoritas dari warga Indonesia. Sebesar 52 persen penduduk Indonesia berusia di bawah 30 tahun. Mereka tinggal di desa-desa yang memiliki potensi pertanian. 

Indonesia akan mengalami bonus demografi pada 2012 hingga 2045. Puncaknya diprediksi bakal terjadi pada 2028-2031. Bonus demografi terjadi ketika usia produktif (15-64 tahun) mendominasi, yakni 50-70 persen dibandingkan usia tidak produktif (14 tahun ke bawah dan 65 tahun ke atas). 

Bonus demografi tersebut bisa seperti pedang bermata dua, bisa menjadi peluang maupun hambatan bagi pertanian jika tidak dikelola dengan baik. Bila masyarakat lebih tertarik bekerja di sektor non pertanian daripada sektor pertanian. Artinya sektor pertanian hanya akan mendapat tenaga kerja sisa dari bonus demografi, di mana tenaga kerja yang berada di dalam golongan sisa bonus demografi ini adalah tenaga kerja yang kualitas SDM-nya rendah. Dan bila itu terjadi maka bonus demografi ini tidak akan membawa manfaat bagi sektor pertanian.

“Disinilah perlunya kampanye dan fokus untuk kaum muda mampu memanfaatkan pertanian dan merebut kembali sejarah pertanian,” tegas Riyada.

Bonus demografi akan bermanfaat dalam mendorong terjadinya regenerasi sektor pertanian yang berkualitas dan berkelanjutan bila sektor pertanian menarik dan menginspirasi kaum muda yang berkualitas untuk terjun ke sektor pertanian dengan pengembangan model pertanian modern. Hal ini dicirikan oleh penggunaan inovasi teknologi pertanian terkini yang dikelola dengan menggunakan alsin pertanian pada setiap tahapan.

Di perbatasan Indonesia tahun ini Indonesia pun ajak pemuda bertani melalui peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) XXXVII tahun 2017 yang digelar di lapangan Kodam XII Tanjung Pura, Kalbar (19-22/10). Indonesia sangat berharap masa depan pangannya dari pemuda.

 

Petani Inovator

Salah satu upaya membangun petani inovator berjiwa wirausaha Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengembangkan Gerakan Pemuda Tani Indonesia (GEMPITA). 

“Setidaknya GEMPITA hadir untuk menjawab empat masalah pokok yaitu rekrutmen SDM terampil dunia pertanian, tenaga perluasan areal tanaman pangan, tenaga terampil untuk penerapan pertanian modern (mekanisasi pertanian) hingga modal untuk mewujudkan swasembada pangan,” urainya.

Hingga tahun 2018 mendatang, GEMPITA ditargetkan mampu merekrut sebanyak 1 juta tenaga baru pertanian. Sedangkan sampai sekarang sudah mencapai 450 ribu tenaga baru pertanian. “Adapun yang sudah terjun langsung ada sekitar 100 ribuan orang dan itu terlihat dari jumlah lahan baru pertanian yang sudah dibuka oleh GEMPITA,” tutur Riyada.

Riyada mengakui penarikan minat kaum muda untuk terjun ke dunia pertanian harus disertai contoh sukses dan peluang. “Kita perlu yakinkan pemuda bahwa ini (pertanian) berpenghasilan karena tidak ada cara lain, karena pastinya akan dilihat dulu ujungnya kesejahteraan dan peluang penghasilan. Semua pihak pastinya akan proaktif,” urainya.

Contoh sukses dan peluang penghasilan tersebut lebih pasti ada pada komoditi jagung karena dari hulu hingga hilir sudah terjamin pemerintah mulai dari bantuan benih, program kemitraan untuk pupuk, olah tanah sampai kepada pemasaran. Kalau anak muda butuh dana segar sebagai upah bertani dan lain-lain, hal ini bisa difasilitasi Gempita dengan kemudahan akses mendapatkan KUR (Kredit Usaha Rakyat).

“Di luar konteks bantuan yang tersedia, usaha jagung juga tidak merepotkan karena dalam 4 bulan pertanaman mereka hanya perlu bekerja keras selama 20 hari. Dalam 4 bulan bisa mendapatkan Rp 150 juta. Peminatnya sekarang sudah banyak dari berbagai kalangan non pertanian,” tuturnya.

Anggota Gempita mengguna­kan lahan tidur yang banyak tersebar di daerah.

Gempita sendiri ditargetkan mampu mengolah lahan 10 ha per anggota, supaya bisa melibatkan orang lain dalam manajerial di kemudian hari. Saat musim tanam I, anggota diharapkan bisa mengolah lahannya sendiri dan saat musim tanam ke II bisa menggaji orang lain untuk mengolah lahannya. “Kita dorong memang untuk masuk di onfarm, off farm maupun non farm (bisnis alsintan dan lain-lain). Namun di tahap pertama ini kita dorong untuk on farm dulu. Setelah itu, bisa saja ada yang tetap memilih di onfarm atau mengelola dalam membuka pasar,” jelas Riyada.

 

Korporasi KUB

Untuk anggota yang sudah memiliki daerah binaan mencapai 1000 ha, bisa membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan bermitra dengan sumber-sumber permodalan, informasi pasar, dan bermitra dengan jaminan asuransi. 

 KUB juga menjadi wadah untuk menampung profesionalitas kelompok muda pertanian, menerapkan pola pengelolaan pertanian yang efektif dan hasil secara optimal. Faktor SDM, manajerial, jaringan yang dimiliki pemuda tani yang mengelola KUB mampu memberikan kontribusi akan bangkitnya sektor pertanian.

Sehingga pemuda tani juga diharapkan berperan sebagai pelayannya kelompok tani. Karena itu, dengan KUB dapat membangun sendiri industri benih, industri pupuk, aplikasi-aplikasi peralatan modern, pengolahan pasca panen modern hingga pemasaran. 

Hingga saat ini sudah terbentuk sebanyak 180 KUB dan terbagi menjadi dua bagian besar yaitu onfarm dan off farm. Untuk on farm, KUB bisa melakukan usaha olah tanah, perawatan tanaman, hingga panen. Tak hanya itu, bisnis produksi pupuk organik, penyedia pestisida, penyedia benih hingga pengolahan panen seperti pengeringan, penggilingan, pengolahan serta pengemasan bisa menjadi usaha bisnis KUB Gempita.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162