Loading...

Penanaman Jagung

13:31 WIB | Wednesday, 26-April-2017 | Editorial, Mentan Menyapa | Penulis : Kontributor

Jagung merupakan komoditi tanaman pangan yang memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional dan menjadi bahan baku utama pakan ternak untuk kelanjutan produksi daging nasional. Permintaan jagung terus mengalami peningkatan, berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk, sebagai dampak dari peningkatan kebutuhan pangan, konsumsi protein hewani dan energi. Kita berupaya untuk mewujudkan swasembada jagung melalui peningkatan produksi jagung secara berkelanjutan.

 

Alhamdulillah, pada tahun 2016 impor jagung sudah menurun sekitar 60% dan tahun 2018 jagung sudah tidak impor. Produksi jagung harus ditingkatkan guna mengurangi impor.

 

Pengingat saja, program Integrasi Jagung di Lahan Perkebunan telah dicanangkan pada tanggal 27 Mei 2016 di Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat seluas satu juta hektar. Program ini dilakukan dalam rangka mensinergikan antara tanaman pangan dengan tanaman perkebunan untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional khususnya Jagung.

 

Setiap daerah berpotensi harus berupaya menjadikan daerahnya sebagai sentra pengembangan jagung untuk membantu meningkatkan pendapatan petani sekaligus mendukung pencapaian swasembada jagung nasional.

 

Tahun anggaran 2017 ini Kementerian Pertanian memfasilitasi kegiatan jagung dengan fokus utama sasaran peningkatan produksi jagung yang diarahkan pada kegiatan perluasan areal tanam (PAT) dan Peningkatan Indeks Pertanaman (PIP). Kegiatan Jagung ini diharapkan mampu mendorong perluasan areal tanam jagung pada lahan-lahan perkebunan, kehutanan, Perhutani/ Inhutani, lahan kesultanan, lahan adat/ulayat dan lain-lain yang sebelumnya tidak pernah ditanami jagung atau sebelumnya pernah ditanami jagung tetapi kemudian tidak ditanami lagi (peningkatan IP).

 

Salah satu percontohan yaitu lahan pertanian terpadu (integrated farming) yang dikelola antara Perhutani dan Universitas Gadjah Mada (UGM) di lokasi petak 18 Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Randublatung, Desa Semanggi, Jepon, Blora, Jawa Tengah. Penanaman jagung dilakukan di sela-sela tanaman hutan Jati. Patut untuk dicontoh model sistem pertanian terpadu yang ditanam di lahan hutan milik Perhutani ini. Konsep ini bisa diterapkan di perusahaan perkebunan nasional lainnya di seluruh Indonesia. Bayangkan kita punya hutan jati, lahan perkebunan kelapa sawit, bisa dikombinasi dengan tanaman jagung.

 

Contoh lain seperti lahan hutan jati di Ponorogo dengan konsep yang sama di mana di sela-sela tanaman kayu putih ditanami jagung. Rata-rata produksi jagung per satu hektar di KPH Randublatung mencapai 7,6 ton per ha. Hasil panen jagung itu apabila dijual dengan harga per kilo Rp 2.800, petani bisa dapat puluhan juta rupiah setiap kali panen. Namun di Perhutani, setiap hektar digarap 3-4 petani, setelah dibagi rata, per kepala keluarga mendapatkan penghasilan sekitar Rp1,3 juta per bulan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162