Loading...

Pendekatan Sosial-Budaya agar Petani Melek Teknologi

09:39 WIB | Tuesday, 03-October-2017 | Teknologi, Iptek | Penulis : Clara Agustin

Inovasi teknologi memang menjadi kunci untuk mencapai ketahanan pangan nasional. Dengan inovasi teknologi pencapaian seperti peningkatan produksi, menekan hama dan penyakit tanaman hingga kesejahteraan petani dapat dengan mudah diterapkan.

 

Penanggungjawab Program Upaya Khusus (Upsus) wilayah Jawa Barat, Banun Harpini mengatakan, pendekatan sosial budaya sangat diperlukan di petani. Misalnya, mengganti varietas yang biasa ditanam petani menjadi varietas unggul. Caranya dengan memperkenalkan terlebih dahulu dengan cara demplot, demfarm dan demarea.

 

“Petani ini kan sifatnya akan percaya dan mau mengikuti kalau langsung melihat hasilnya. Kalau hanya sebatas pemberian materi dan himbauan, susah untuk diserap langsung petani. Dengan membuat percontohan (demplot/demfarm/demarea) dan Sekolah Lapangan, biasanya lebih mudah diserap petani,” tutur Banun.

 

Seperti kasus di Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sebagian besar lahan pertaniannya terkena penyakit klowor. Mengganti varietas lama dengan Inpari 33 menjadi hal yang wajib dilakukan. Karena masyarakat tani masih kurang percaya dengan keunggulan Inpari 33, lalu dibuat demarea seluas 350 ha untuk mengatasi penyakit klowor. Dari mulai pengolahan tanah hingga penggunaan varietas tahan hama wereng (Inpari 33) akan dilakukan di demarea tersebut.

 

“Demarea yang ada di Anjatan ini merupakan contoh dan akan menjadi bukti bahwa menanam varietas Inpari 33 lebih baik dibandingkan menanam varietas lokal atau padi ketan yang rentan terhadap hama dan penyakit,” ucap Banun.

 

Pergantian varietas di kalangan petani memang bukan perkara mudah. Mereka banyak pertimbangan. Misalnya, harga jual bagaimana, cara budidayanya apakah sulit atau sama dengan varietas lama, dan bagaimana mendapatkan benihnya. Semua itu pertanyaan yang muncul di petani.

 

“Karena itu meyakinkan petani itu harus dengan contoh. Biar mereka nanti menyaksikan sendiri dampak-dampak yang diterima ketika menanam varietas baru. Ini yang namanya pendekatan sosial-budaya,” terang Banun.

 

Konversi Lahan

 

Permasalahan konversi lahan juga harus menggunakan pendekatan sosial-budaya. Banun mengatakan, beberapa kabupaten di Jawa Barat, Pemdanya kini sedang menggodok peraturan mengenai penetapan luas lahan baku pertanian. Namun dalam penetapan luas lahan baku areal pertanian Pemdanya harus diberikan masukan mengenai manfaat lahan subur pertanian untuk ketersediaan pangan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162