Loading...

Peresmian Museum Tanah Indonesia

14:51 WIB | Tuesday, 05-December-2017 | Nasional | Penulis : Clara Agustin

Bertepatan dengan peringatan World Soil Day (Hari Tanah Sedunia), Kementerian Pertanian (Kementan) meresmikan beroperasinya “Museum Tanah Indonesia” di Kota Bogor. Lokasi museum tersebut sangat strategis, dekat dengan pintu masuk utama Kebun Raya Bogor dan Museum Zoologi.

 

"Iklim di Indonesia itu hanya dua, musim kemarau dan hujan. Karena hanya dua musim, jadi tanaman apapun pasti tumbuh. Melalui Museum Tanah Indonesia akan ditunjukkan betapa kayanya negara kita ini," kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat Soft Launching Museum Tanah Indonesia di Bogor, selasa (5/12).

 

Koleksi yang dipamerkan di museum tanah meliputi koleksi sampel tanah dan batu dari seluruh Indonesia. Selain itu ada monolith tanah, peta, batuan induk, peralatan survei, mesin cetak peta, biodiversitas organisme tanah, informasi perubahan iklim, antikuariat pembentukan tanah dan jenis kesesuaian lahan. Dipamerkan pula alat-alat laboratorium lama yang memiliki historis tinggi, sampel pupuk, informasi komoditas utama Indonesia yang sesuai dengan jenis tanah, diorama ekosistem dan Soil Test Kit (perangkat alat uji tanah).

 

Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Gayatri K. Rana mengemukakan, Museum Tanah Indonesia menempati Gedung Laboratorium Voor Agroheologie En Grond Onderzek. Gedung ini dibangun oleh pemerintah Belanda pada periode 1880-1900 sebagai salah satu lembaga penelitian di bawah Kebun Raya Bogor dan digunakan sebagai laboratorium geologi.

 

Museum Tanah Indonesia pertama kali didirikan pada tahun 1988 melalui Balai Penelitian Tanah yang bekerja sama dengan International Soil Reference and Informatiom Centre (ISRIC) yang berkedudukan di Wageningen, Belanda. Mengingat pada saat itu tempatnya terbatas, maka di tahun 2015 dilakukan renovasi gedung dan pengelolaannya langsung ditangani oleh Kementan.

 

Gayatri menjelaskan bahwa dari 12 jenis tanah di dunia, Indonesia mempunyai 10 jenisnya, kecuali gurun dan kutub. "Ya makanya flora, fauna dan kekayaan alam kita beragam. Tidak heran Belanda melakukan penelitian tanah di kita sejak tahun 1905," kata Gayatri.

 

Keberadaan Museum Tanah Indonesia menjadi hal yang penting khususnya untuk mendokumentasikan berbagai jenis tanah dan bebatuan yang ada di Indonesia, sehingga dapat dijadikan sarana edukasi, penelitian dan wisata bagi seluruh masyarakat. Dengan mengenal tanah di Indonesia, maka berbagai inovasi teknologi pertanian dapat diciptakan untuk efisiensi dan peningkatan produksi pertanian. "Saya berharap museum ini bisa menjadi ajang pendidikan bagi masyarakat Indonesia," tutur Gayatri. Cla/Ira

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162