Loading...

Peringkat Ketahanan Pangan Indonesia Terus Membaik

09:53 WIB | Thursday, 12-July-2018 | Non Komoditi, Sarana & Prasarana | Penulis : Julianto

Peringkat Ketahanan Pangan Indonesia atau Global Food Security Index-GFS terus membaik. Hasil kajian yang dirilis tiap tahun oleh The Economist Inteligence Unit (EIU) menunjukkan, data Ketahanan Pangan Indonesia terus membaik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

 

Dari 113 negara yang dikaji, pada tahun 2017 Indonesia menempati rangking ke 69 dengan skor 51,3 dan naik 0,2 poin dibanding pada tahun 2016 yang menempati posisi 71 dengan skor 51,1.

 

Menurut Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian, Ketut Kariyasa, meningkatnya ketahanan pangan Indonesia ini seiring dengan membaiknya posisi tiga pilar yang membentuknya. Yaitu pilar keterjangkauan (affordability), ketersediaan (availability), serta kualitas dan keamanan (quality and safety).

 

Pada aspek keterjangkuan terhadap pangan posisinya naik dari 70 pada tahun 2016 menjadi 68 pada tahun 2017 dengan score naik 0,5 poin (dari 50,3 menjadi 50,8). Pada aspek ketersediaan, posisinya naik dari 66 pada tahun 2016 menjadi 64 pada tahun 2017 dengan score naik 0,1 poin (dari 54,3 menjadi 54,4).

 

“Pada aspek ini, posisi Indonesia berada di atas Thailand, Vietnam, Myanmar dan Philipina. Walaupun tidak terjadi perbaikan skor, yaitu tetap 44,1, tetapi posisi aspek kualitas dan keamanan pangan Indonesia juga meningkat dari 87 pada tahun 2016 menjadi posisi 86 pada tahun 2017,” tutur Ketut.

 

Membaiknya posisi ketahanan pangan Indonesia tidak terlepas dari upaya keras yang telah dilakukan Pemerintahan Jokowi-JK yang lebih lanjut diterjemahkan dalam bentuk program-program terobosan pembangunan pertanian oleh Kementerian Pertanian dalam empat tahun terakhir ini.

 

“Berbagai terobosan telah dan sedang dilakukan Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produksi pangan dalam negeri, dalam upaya meningkatkan ketersediaannya. Seperti Upsus peningkatan produksi padi dan jagung telah berdampak secara signifikan terhadap peningkatkan produksi,” katanya.

 

Selain itu, pengembangan pertanian modern yang dicirikan dengan penggunaan alat mesin pertanian (alsintan), baik pra dan pasca panen secara meluas, menurut Ketut selain meningkatkan pendapatan petani juga telah mampu menekan kehilangan hasil secara nyata sehingga berkontribusi terhadap meningkatnya ketersediaan pangan.

 

“Terobosan dalam distribusi dan stabilisasi harga dengan memperpendek rantai pasok melalui program Toko Tani Indonesia (TTI), pun telah menyebabkan harga di tingkat konsumen menjadi lebih terjangkau,” tandas Ketut.

 

Apresiasi FAO

 

Bahkan Representatif Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) untuk Indonesia dan Timor Leste yang baru, Stephen Rudgard, mengapresiasi atas kemajuan dan keberhasilan sektor pertanian di Indonesia dan upaya mengentaskan kemiskinan di pedesaaan.

 

Apresiasi itu disampaikan dalam kunjungan kerjanya ke Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan) RI di Jakarta, Selasa (3/7). Organisasi Pangan dan Pertanian FAO berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada kunjungan ini, Stephen mengaku bangga bisa bertemu dan berdiskusi dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, yang telah memimpin Kementan RI mendorong industri pertanian Indonesia, sehingga mencapai sejumlah prestasi dalam hal ekspor pangan dan pengembangan teknologi pertanian.

 

“Saya bangga dan gembira bisa bertemu dan berdiskusi dengan Menteri Pertanian, membicarakan prioritas program-program ke depan antara FAO dan Kementan," ujar Stephen. Bahkan ia mengaku, berada di Indonesia seperti kampung halaman, karena pernah menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. “Ini adalah kepulangan kembali saya ke Indonesia. Kini saya kembali untuk bersama-sama mengembangkan pertanian, membatu para petani di Indonesia,” tambahnya.

 

Dalam waktu dekat, Stephen mengatakan akan mengundang Director General FAO, Jose Graziano Da Silva ke Indonesia untuk melihat kemajuan pertanian Indonesia guna meningkatkan kerja sama dalam peningkatan produksi dan kesejahteraan petani. Bahkan meningkatkan volume ekspor pangan Indonesia ke berbagai negara.

 

“Kedatangannya nanti untuk melihat langsung kemajuan pertanian Indonesia. Sebab banyak capaian yang drastis meningkatkan produksi dan volume ekspor. Kebijakan pertanian pun saat ini telah berhasil menurunkan tingkat kemiskinan di pedesaan,” ungkapnya.

 

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menambahkan untuk memperkuat kerja sama dengan Indonesia FAO, dalam waktu dekat akan berkunjung ke Sulawesi Selatan, khususnya melihat langsung pengembangan kakao dan bertemu dengan petani untuk memberikan edukasi. Peran FAO sangat diharapkan dalam memberikan bantuan pada petani Indonesia. “Kita berharap produksi kakao kita lebih besar lagi. Dari sebelumnya 600 ton, kita targetkan lebih dari 1 juta ton," jelas Amran. Yul/Ditjen PSP

Editor : Pimpinan Redaksi

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162