Loading...

Perjalanan Panjang NASA 29

14:19 WIB | Tuesday, 30-May-2017 | Teknologi, Klinik Teknologi | Penulis : Kontributor

Tidak kurang 15 tahun waktu yang diperlukan untuk menciptakan Calon Varietas Unggul Jagung Hibrida NASA 29. Kerjas keras para mulia jagung di Blitsereal Maros, Balitbangtan ini telah membuahkan hasil berupa jagung bertongkol ganda yang tahan banting.

 

Dr. Azrai, Kepala Balisereal Maros yang juga sebagai pemulia utara jagung hibrida bertongkol ganda ini bercerita bahwa sejarah jagung ini telah dimulai tahun 2003. Jagung hibrida tongkol ganda merupakan hasil persilangan antara galur inbrida dengan kode G10.26-12 sebagai tetua betina dan MAL03 sebagai tetua jantan. Kedua galur tersebut dirakit oleh Tim Pemulia Jagung Balitbangtan Kemtan. 

 

Populasi hasil rekombinasi tersebut diseleksi dengan menggunakan metode seleksi berulang selama 3 generasi hingga terbentuk populasi dasar siklus ke 3 pada tahun 2005. Kegiatan penggaluran dilakukan di KP. Balitsereal pada tahun 2006 dengan metode selfing sebanyak 8 generasi sehingga diperoleh galur murni dengan nama aksesi G10.26-12 pada tahun 2010. Arah seleksi ditujukan pada tongkol kedua dan daya gabung. 

 

Program pemuliaan ini terus berjalan tanpa henti dengan memasukkan berbagai keunggulan di dalamnya seperti tahan penyakit bulai.  Seleksi galur dilanjutkan mulai MH 2008 di KP.  Balitsereal Maros hingga terbentuk galur S8 pada MK 2009 dengan arah seleksi ditujukan pada tongkol kedua dan daya gabung. 

 

Pada tahun 2011-2012 dilakukan evaluasi daya gabung hibrida silang uji dan diperoleh informasi daya gabung khusus baik antara galur  G10.26-12 X MAL03. Pengujian terus berlanjut, sampai pada uji multilokasi dalam rangka pelepasan varietas dilakukan pada MK 2016. T=Rencananya, VUB jagung hibrida tongkol ganda akan dirillis 2017 ini.

 

Unggul di Jawa Timur

 

Azrai juga menjelaskan NASA 29 ini telah dilakukan pengujian daya saing di Provinsi Jawa Timur. Provinsi ini dikenal sebagai sentra produksi jagung dengan tingkat produksi tertinggi di Indonesia yaitu mencapai 5,74 juta ton atau 30,1% produksi jagung nasional.

 

Di daerah ini juga telah berkembang hampir semua varietas jagung terutama jenis hibrida, persaingan penyebaran varietas sangat tinggi karena produsen benih jagung hibrida banyak berlokasi di Jawa Timur. 

 

Sedangkan, Kabupaten Lamongan adalah sebagai salah satu sentra produksi jagung di Provinsi Jawa Timur dengan perkembangan teknologi jagungnya terus melaju.  Hampir semua jenis varietas jagung hibrida berkembang dengan teknologi budidaya yang lebih maju, dan persaingan produsen dan distributor benih jagung sangat tinggi,  dan juga telah menjadi pusat kunjungan obyek teknologi budidaya jagung, baik pengunjung dari dalam negeri maupun dari manca negara, sehingga sangat beralasan menjadi lokasi pengujian calon VUB jagung.

 

Penelitian ini dilakukan di Desa Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mulai September 2016 sampai Januari 2017, bertujuan untuk mengetahui daya saing Calon varietas hibrida NASA 29.

 

Menurutnya, secara genetik, calon varietas NASA 29 mempunyai keunggulan dalam hal jumlah tongkol dibanding dengan varietas dominan yang ditanam petani.  Hasil study adaptasi pendahuluan menunjukkan sifat prolifiknya mencapai 70%.

 

Dari hasil pengujian ini diketahui, potensi hasil  sama dengan varietas yang diproduksi oleh perusahaan swasta multinasional, bahkan lebih unggul, sehingga secara ekonomi calon varietas NASA 29 lebih menguntungkan.

 

Analisa R/C-rasio menunjukkan calon varietas hibrida NASA-29 mencapai 5,1 sedang varietas lainnya hanya 4,1 sampai 4,3. Selain itu, preferensi petani terhadap panjang tongkol, diameter tongkol, rendemen dan potensi hasil menunjukkan bahwa NASA-29 mendapat penilaian yang lebih baik dari varietas lainnya, artinya mempunyai peluang besar untuk dikembangkan di masa datang. Lis

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162