Loading...

Petani Cabai Magelang Tak Kuatir Lagi Kehilangan Hasil Panen

21:49 WIB | Saturday, 07-April-2018 | Suara Tani, Kabar Penas KTNA XV 2017 | Penulis : Gesha

 

 

Kehilangan hasil (losses) dari komoditi cabai tergolong tinggi. Padahal dengan inovasi pascapanen yang tepat, petani bisa menekan kehilangan hasil panen dan menjual cabai segar hingga ke tangan konsumen.

 

Pernahkah Anda mendapatkan cabai yang sudah kering atau berair, bahkan sudah hampir busuk? Ini terjadi karena proses pascapanen yang tidak tepat. Petani cabai tentu saja menderita kerugian yang cukup besar, karena harga jual cabai akan turun drastis.

 

Di Indonesia, kehilangan pasca panen pada komoditas cabai di Indonesia masih tinggi, berkisar 20-30%.  Bentuk kehilangan hasil tersebut bisa dalam bentuk rusak, busuk, kering atau mengalami penurunan mutu.

 

Praktik panen yang dilakukan secara serampangan, tidak ada sortasi, terkena serangan Antracnose, serta cara pengemasan dan transportasi yang asal-asalan merupakan faktor penyebab terjadinya kehilangan hasil cabai tersebut.

 

Karena itu, Balai Besar Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) bekerjasama dengan PT Agro Indo Mandiri (AIM). Melalui Project Asean Reducing Postharvest Losses mencoba mengimplementasikan inovasi Balitbangtan guna penekanan kehilangan hasil, khususnya pada komoditas cabai.

 

Teknologi yang diperkenalkan pada petani cabai di Desa Sugihmas tersebut antara lain penerapan Bagan Warna Cabai untuk acuan panen dan teknologi pemilahan (sortasi) cabai sub-standar. Sdelain itu, inovasi mengganti kemasan sementara dari karung bekas pupuk atau bekas pakan dengan krat plastik yang lebih higienis untuk mengurangi kerusakan mekanis (gencetan).

 

Sedangkan di tingkat pengepul dan pengepak dikenalkan teknologi pencucian dengan ozon, kemasan dengan sistem aerasi pengemasan yang baik, serta transportasi dingin (cold chain). Teknologi pencucian dengan ozon dimanfaatkan untuk meminimalisasi pertumbuhan bakteri, virus dan jamur, mengurangi residu pestisida  dan meredam aktivitas Antracnose (penyakit Pathek) serta memperpanjang umur simpan cabai.

 

Uji coba implementasi ini dilakukan di Desa Sugih Mas, Kecamatan Grabak, Kabupaten Magelang. Kegiatan yang dilakukan antara lain sosialisasi dan bimtek penanganan pascapanen yang baik (Good Handling Practices), beserta kelengkapan teknologinya. Misalnya, teknologi sortasi, kemasan dan transportasi. Dengan teknologi tersebut bisa menekan kehilangan hasil hingga tinggal separuhnya.

 

 Para petani di kawasan tersebut menyambut baik dan antusias terhadap kegiatan Pilot Project Asean tersebut. Kepala Desa Sugihmas, Kecamatan Grabak, Srianto mengungkapkan, kegiatan ini pertama kali dilakukan dan menjadi bentuk dukungan untuk petani cabai di daerahnya. "Baik petani dalam Gapoktan Maju Mandiri maupun masyarakat pada umumnya, semuanya termotivasi untuk melakukan penanganan pascapanen cabai yang baik,” tuturnya.

 

Ketua Gapoktan Maju Mandiri, Solikhin juga menyambut adanya kegiatan ini dan mulai berpikir untuk menata panen hingga pemasaran. “Selama ini kita panen dan lelang (jual) cabai dalam satu hari yang sama, hari Kliwon. Tapi nampaknya ke depan panennya harus Wage dan jualnya Kliwon, agar ada cukup waktu untuk menyiapkan hasil panen dengan mutu terbaik dan tidak gampang rusak” ungkapnya. Gsh/BB Pascapanen

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162