Loading...

Petani Menunggu Produk Bioteknologi

16:30 WIB | Tuesday, 19-April-2016 | Kabar Penas KTNA XV 2017, Suara Tani | Penulis : Julianto

Ketua Umum KTNA, Winarno Tohir

Kalangan petani kini menungu produk hasil teknologi rekayasa genetik atau lebih dikenal dengan bioteknologi. Pasalnya, teknologi tersebut menjadi salah satu cara untuk memacu peningkatan produktivitas tanaman.

 

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir saat Perayaan 20 tahun Komersialisasi Global Tanaman Bioteknologi  Hasil Rekayasa Genetika di Jakarta, Selasa (19/4) mengatakan, posisi petani dalam menghadapi kemungkinan adopsi tanaman bioteknologi di Indonesia adalah sikap menunggu. “Kita sekarang ini menunggu, produk hasil teknologi itu bisa diterapkan petani,” katanya.

 

Ada beberapa alasan yang membuat petani terdorong untuk bisa segera menerapkan teknologi tersebut. Pertama, petani di Indonesia sudah mengenal dan memahami tanaman bioteknologi. Kedua, petani Indonesia sudah mendapat sosialisasi dari ahli biotek dari perguruan tinggi.

 

Ketiga, lanjut Winarno, petani Indonesia sangat berkeingian sekali menanam tanaman biotek agar mendapatkan kepastian panen dan peningkatan pendapatan. Apalagi kini pengaruh perubahan iklim sangat besar terhadap kegiatan usaha tani. Keempat, untuk mempertahankan ketahanan pangan harus ada tambahan teknologi biotek, terutama untuk ekstensifikasi di lahan marjinal yang potensinya masih sangat luas.

 

Sementara itu Ketua Umum Perhimpunan Bioteknologi Pertanian Indonesia (PBPI), Bambang Purwantara mengatakan, petani di Indonesia memang sudah menunggu lama produk hasil bioteknologi ini. Apalagi kini hampir 30 negara telah menanam tanaman bioteknologi dengan total luas areal hampir 130 juta hektar (ha).

 

Bambang menilai dari sisi penelitian sudah ada penambahan komoditas, bahkan sudah lebih mendalam dan bervariasi. Persoalannya memang pada level aplikasi yang memang belum bisa terealisasi di lapangan. Misalnya, tebu tahan kekeringan dan jagung tahan herbisida yang merupakan produk bioteknologi yang sudah lolos uji lingkungan dan keamanan pangan.

 

Namun sampai sekarang belum lolos uji pakan, sehingga petani belum bisa menanam. Karena itu, Bambang berharap, pemerintah segera mengeluarkan regulasi yang terkait keamanan pakan. “Saat ini Pedoman Pengkajian Keamanan Pakan sudah draf terakhir, kita masih menunggu tanda tangan pengesahan Menteri Pertanian,” ujarnya.

 

Varietas hasil bioteknologi lainnya yang sudah berhasil diteliti yakni kentang hasil penelitian Balai Besar Biogen dan padi tahan hama penyakit dan banjir haisl penelitian IPB dan LIPI. Tapi produk tersebut belum diuji lingkungan, pangan dan pakan sesuai aturan pemerintah. Pasalnya, peneliti tidak mempunyai anggaran untuk pengujian keamanan pangan, pakan dan lingkungan.

 

“Jadi agar laju bioteknologi ini makin cepat, pemerintah harusnya menyediakan anggaran bagi agar hasil penelitian itu bisa dilakukan uji kelayakan,” katanya.

 

Sementara itu Koordinator Global ISAAA (International Service for the Acquisition of Agri Biotech Applictions), Randy Hautea mengatakan, China merupakan salah satu contoh dari negara yang menerima manfaat bioteknologi bagi petaninya. Pada rentang waktu 1997-2014, varietas kapas bioteknologi yang ditanam petani China menghasilkan keuntungan sekitar 17,5 miliar dolar AS. “Mereka mencatat peningkatan sebesar 1,3 miliar dolar AS pada tahun 2014,” ujarnya.

 

Sedangkan negara India, pada tahun 2015 mencatatkan diri menjadi produsen kapas terbesar di dunia dengan kapas Bt. Sekitar 11,6 juta hektar (ha) lahan ditanami kapas dengan melibatkan 7,7 petani kecil. “Petani, juga konsumen menikmati keunggulan tanaman biotek, karena keunggulannya toleran kekeringan, tahan hama dan penyakit,” katanya.

 

 

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162