Loading...

Petani Muda, Engkau di Mana?

14:09 WIB | Monday, 18-September-2017 | Agri Wacana, Kolom | Penulis : Kontributor

Presiden Joko Widodo menyindir banyaknya lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang menjadi pegawai bank. Dalam orasinya di depan sidang terbuka Dies Natalis IPB ke 54 belum lama ini, dengan gaya yang khas Jokowi menyayangkan lebih banyak alumni IPB yang menjadi pegawai bank, dari direksi hingga level manajer, dibandingkan yang menjadi petani.

 

“Terus yang ingin menjadi petani siapa? Ini pertanyaan yang harus dijawab oleh mahasiswa,” ungkapnya. Ditambahkan, seharusnya lulusan IPB bisa bekerja di sektor pertanian yang lebih moderen.

 

Ungkapan dan pertanyaan Jokowi memang tepat dan sudah seharusnya mengusik semua pihak yang terkait dengan dunia pertanian. Fakta menunjukkan, minat kalangan muda untuk menggeluti sektor memang pertanian cenderung semakin menurun. Data BPS tahun 2013 mencatat, sektor pertanian lebih didominasi petani dengan usia lanjut.

 

Kelompok petani usia di bawah 34 tahun hanya berjumlah 3,36 juta atau hanya 12,85%, dari total 26,14 juta rumah tangga petani. Selebihnya merupakan petani dengan usia 34 tahun ke atas atau 87,14%. Sementara data lain menyebutkan, usia petani Indonesia pada 2013 terdiri 61,8 persen berusia lebih 45 tahun, 26 persen berusia 35-44 tahun dan 12 persen berusia kurang dari 35 tahun.

 

Bila tidak segera dilakukan langkah besar untuk menghentikan pengurangan tenaga kerja pertanian usia muda, bukan tidak mungkin sawah dan ladang akan semakin sepi karena ditinggalkan para pekerjanya. Kalau pun masih ada yang menggarap sawah dan ladang hanya akan tertinggal para petani tua yang sudah tidak produktif lagi.

 

Bisa saja, sawah dan ladang yang selama ini menjadi gantungan hidup ratusan juta orang dalam memenuhi kebutuhan pangan akan kehilangan kemampuan produksinya.

 

Mengapa para pemuda tidak lagi tertarik menjadi petani? Salah satu penyebabnya karena ada persepsi negatif terhadap profesi petani. Petani masih dipandang sebagai profesi tidak menjanjikan, tidak ada harapan, petani itu rugi dan bergelut dengan kemiskinan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162