Loading...

Potensi Bahaya Keamanan Pangan dari Cemaran Irigasi

11:00 WIB | Monday, 24-July-2017 | Agri Wacana, Agri Wacana | Penulis : Kontributor

Oleh: Yosua Wira Adi Nugroho*

 

Pertanian memiliki peranan penting dalam pembangunan suatu daerah dan perekonomian. Pertanian merupakan subsistem yang bertujuan menghasilkan pangan dengan memanfaatkan sumber daya alam, termasuk sistem perairan (irigasi).

 

Ujung dari sebuah sistem pertanian adalah pemenuhan kebutuhan pangan. Suatu sistem pertanian yang baik memerlukan sistem perairan atau irigasi yang baik. Sistem irigasi yang baik ditunjang dengan adanya penyediaan air yang memenuhi standar.

 

Pengembangan sistem irigasi di Indonesia mulai menjadi prioritas pada tahun 1969, tepatnya pada Repelita 1 (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Saat itu Indonesia memiliki program intensifikasi dan ekstensifikasi. Program intensifikasi memfokuskan pemenuhan kebutuhan padi sendiri atau swasembada beras. Sedangkan program ekstensifikasi meliputi penggunaan air irigasi, varietas berdaya hasil tinggi, pemupukan dan pestisida.

 

Program pengembangan irigasi meliputi rehabilitasi jaringan irigasi eksisting, pengembangan daerah layanan menurut skema yang ada saat itu, konstruksi sistem irigasi baru, perbaikan sistem irigasi, implementasi program operasional dan pengelolaan yang efisien. Lalu diperkuat oleh Perkumpulan Pemakai Air, dan beberapa perkumpulan lain. Buah dari program pengembangan irigasi tersebut membuat Indonesia menjadi negara swasembada padi dan beberapa komoditas lainnya.

 

Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut kini berubah. Data Kementerian Pertanian (2015) pembangunan irigasi menurun hingga 1,4% per tahun. Penurunan ini karena keterbatasan lahan baru yang sesuai untuk pengembangan irigasi, keterbatasan sumber daya air untuk pengembangan irigasi, investasi yang besar untuk pengembangan irigasi karena dana yang diperlukan tidak hanya untuk infrastruktur irigasi namun ada biaya lain untuk sarana pendukungnya. Faktor lainnya alokasi pendanaan untuk irigasi semakin menurun.

 

Masalah yang sering ditemui di lapangan adalah kerusakan jaringan irigasi primer, sekunder maupun tersier; tidak berfungsinya alat pengamat debit di outlet saluran primer dan sekunder; belum terpasang alat tinggi muka air di saluran tersier; sedimentasi di saluran primer, sekunder, dan tersier. Kondisi tersebut akhirnya “memaksa” beberapa pihak menggunakan ulang atau mengolah air limbah menjadi air irigasi. Namun di balik itu memungkinkan berbagai cemaran seperti cemaran mikrobiologis dan kimia terdapat dalam air irigasi tersebut.

 

Bahaya di Balik Cemaran

 

Air limbah yang masuk ke dalam tanah ataupun sayur yang ditanam memilki kemungkinan akan terakumulasinya jumlah cemaran yang terkandung di dalamnya. Menurut studi yang dilakukan Qureshi (2016), mekanisme kontaminasi berasal dari air limbah olahan, kemudian terakumulasi dalam tanah dan sayur, sehingga akhirnya masuk ke dalam tubuh melalui sayur yang dimakan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162