Loading...

Potret Buram Nelayan

11:09 WIB | Friday, 28-April-2017 | Agri Wacana, Kolom | Penulis : Kontributor

Negeri bahari dengan hamparan lautan mencapai sepertiga dari seluruh wilayahnya ternyata belum mampu memberi kesejahteraan bagi para nelayan dan penghuni kawasan pantainya. Dari 2,7 juta jiwa nelayan di Indonesia, sebagian besar masuk dalam kategori miskin.

 

Mereka bukan saja miskin secara ekonomi tetapi juga lemah dalam pendidikan, daya saing, dan penguasaan informasi. Mereka juga serba terbatas dalam menerima layananan kesehatan, transportasi, sarana kerja, dan akses permodalan. Seperti lingkaran setan yang tidak berujung, keterbatasan dan kelemahan itu menjebak mereka pada kemiskinan yang seolah permanen.

 

Sebenarnya ada harapan kehidupan nelayan akan menjadi lebih baik di era pemerintahan Presiden Jokowi. Dengan komitmen untuk  kembali berjaya sebagai negeri maritim serta penunjukkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti yang energik yang ‘berani’, nelayan dan kehidupan lautan memang mendapat perhatian lebih besar dibandingkan sebelumnya.

 

Namun kenyataannya kehidupan nelayan masih juga belum beranjak sejahtera. Pemberian bantuan asuransi, kartu sehat, bantuan modal dan berbagai fasilitas lain ternyata belum mampu mengubah wajah nelayan yang serba miskin.

 

Beberapa kebijakan bervisi jangka panjang, yang seharusnya memberi manfaat bagi nelayan justru sekarang ini memberatkan nelayan dan membuat mereka semakin ‘sengsara’. Seperti yang disuarakan banyak pihak, penggantian alat tangkap ikan yang dinilai merusak lingkungan sampai saat ini belum sepenuhnya mendapat solusi alternatif yang tidak memberatkan nelayan.

 

Mereka harus mengganti alat tangkap ikan namun mereka tidak mampu membeli alat tangkap yang direkomendasikan. Akibatnya, banyak nelayan yang menganggur tidak bisa berlayar mencari ikan.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162