Loading...

Profesor Riset Ditantang Hasilkan Penelitian Aplikatif

16:54 WIB | Monday, 14-August-2017 | Iptek, Teknologi | Penulis : Gesha

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) kembali mengukuhkan tiga Profesor Riset. Dengan demikian, jumlahnya menjadi 128 orang. Sedangkan jumlah profesor riset secara nasional sebanyak 475 orang. 

 

Tiga profesor riset yaitu Prof. Dr. Ir.  Didik Harnowo M.S di bidang Budidaya dan Produksi Tanaman, Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi M.Agr di bidang ilmu tanah, agroklimatologi dan hidrologi, serta Prof. Dr.Ir. Nyoman Widiarta M.Agr di bidang Hama dan Penyakit Tanaman.

 

Kepala Balitbangtan, M. Syakir saat memberikan sambutan Orasi Profesor Riset di Bogor, Senin (14/8) mengingatkan, jabatan Profesor Riset tentunya mempunyai implikasi terhadap tugas dan tanggung jawab yang tinggi terhadap pengembangan dan berperan aktif bersama para pejabat fungsional peneliti dan perekayasa. 

 

“Profesor riset yang telah dikukuhkan nantinya diharapkan dapat menjadi simpul dalam keahlian tertentu sehingga dapat menghasilkan ahli-ahli muda yang handal dalam bidang tertentu,” kata Syakir. 

 

Syakir menegaskan, hasil penelitian yang disampaikan dalam orasi ilmiah tidak berhenti begitu saja, karena Profesor Riset ini diberi tantangan untuk mengaplikasikannya di lapangan. "Bukan hanya sebatas menghasilkan komponen scientific, tapi juga dituntut menghasilkan teknologi terapan berbasis scientific dan mengawal pengembangan teknologi di masyarakat," ungkapnya. 

 

Misalnya, penelitian Prof Didik Harnowo yang berhasil mengidentifikasi penyebab dan mekanisme kerusakan mutu fisiologis benih. Lalu mengembangkan teknologi produksi dan penanganan pasca panen benih untuk menghasilkan kedelai bermutu tinggi, serta tahan simpan selama 6 bulan dan daya tumbuh masih 80%, sehingga bisa membantu bangun industri perbenihan secara berkelanjutan.  "Tantangan aplikatif selanjutnya adalah penelitian tersebut menjadi acuan utama untuk pengembangan kedelai di tahun depan," ujarnya.

 

Inovasi Pemupukan

 

Kepada Prof. Dedi Nursyamsi yang telah berhasil menyempurnakan Inovasi Pemupukan Berbasis Keseimbangan Hara Terintegrasi melalui penggunaan pupuk organik, hayati dan dekomposer, Syakir berpesan agar inovasi ini bisa diterapkan di petani.

 

Saat ini inovasi tersebut telah diterapkan dalam paket Jarwo Super. Terintegrasi dengan penggunaan varietas padi unggul Inpari 30, 31, 32 dan 33, cara tanam jajar legowo, biopestisida dan penggunaan Jarwo Transplanter dan dipanen dengan harvester.

 

Hasilnya, bisa menghasilkan padi lebih dari 10 ton/ha gabah kering panen (GKP) atau meningkatkan 60% dibandingkan cara konvensional. Berujung pada tambahan keuntungan setara dengan Rp 180 triliun/tahun.

 

"Tantangan selanjutnya adalah untuk mengawal secara penuh penerapan teknologi dalam paket Jarwo super dengan skala yang lebih luas dan dapat memacu peningkatan produksi minimal 50%," kata Syakir. Tak hanya itu, Prof Dedi juga ditantang merancang replikasinya di berbagai agro ekosistem sebagai basis pengembangan secara massal di sentra produksi padi.

 

Lain lagi dengan Prof. Nyoman Widiarta yang telah berhasil melakukan formulasi ulang Pengendalian Penyakit Tungro Terpadu yang awalnya fokus kepada komponen pengendalian penularnya (wereng hijau) menjadi perekayasaan lingkungan dan komponen pengendalian yang membatasi pertumbuhan virus tungro. Adanya perubahan paradigma ini akhirnya bisa mengurangi penggunaan insektisida sekaligus selaras dengan Revolusi Hijau Lestari. 

 

Teknologi yang diberi nama Paket Pengendalian Penyakit Tungro Terpadu Ramah Lingkungan (P2T2RL) ini sudah terbukti bisa menekan virus tungro sampai  55,9% selama dua tahun terakhir dan menyelamatkan panen petani hingga Rp 106 miliar.

 

"Aplikasi selanjutnya adalah untuk mengawal teknologi ini lebih luas khususnya pada areal yang terkena outbreak kerdil rumput/kerdil hampa yang ditularkan wereng cokelat," tantang Syakir.

 

Tak hanya itu, Prof. Nyoma  juga diharapkan bisa menyusun road map pengembangan teknologi ini dalam mendukung pengembangan Desa Mandiri Benih. Dengan demikian,  petani bisa menghasilkan benih bermutu tahan virus.  

 

Syakir berharap, hasil penelitian Balitbangtan bermanfaat bagi petani. Sehingga bermuara pada program aksi yang berbasis keilmuan (scientifict) kuat. "Karenanya, karakteristik penelitian Balitbang tentu berbeda dengan penelitian dan karya tulis ilmiah dari perguruan tinggi," tegas.

 

"Peneliti Balitbangtan semua bertanggung jawab untuk memasukkan inovasi teknologi kepada semua program strategis Kementerian Pertanian,"  tambahnya. Gsh

 

Editor : Yulianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162