Loading...

PROLIGA dari Kampus Cimanggu

10:38 WIB | Monday, 30-January-2017 | Liputan Khusus | Penulis : Kontributor

Ajang Proliga selama ini dikenal hanya dalam kompetisi Bola Volley Nasional. Tapi kini ajang Proliga ada di Kota Hujan, tepatnya di Kampus Penelitian dan Pengembangan Pertanian di Cimanggu, Bogor.

 

Proliga yang di Cimanggu memang berbeda dengan kompetisi Bola Volley Nasional tersebut. Proliga yang berada di Kampus Litbang Pertanian Cimanggu merupakan satu agenda untuk mendukung pemerintah menggapai swasembada cabai dan bawang merah.

 

“Proliga merupakan paket teknologi dan benih guna melipatgandakan produksi cabai dan bawang merah. Baik saat on season maupun off season (di luar musim tanam),” kata Kepala Pusat Litbang Hortikultura, Hardiyanto kepada Sinar Tani, beberapa waktu lalu.

 

Selama ini menurut Hardiyanto, rata-rata produksi bawang merah di Indonesia hanya 10,2 ton/ha. Dengan program Proliga melalui paket teknologi budidaya, termasuk varietas unggul, produktivitas untuk akan dinaikkan hingga 20 ton/ha. Sedangkan untuk bawang merah yang semula hanya sekitar 20 ton menjadi 40 ton/ha.

 

Untuk lokasinya, Hardiyanto mengungkapkan, pihaknya sudah menyiapkan di Brebes, baik saat on season maupun off season. Adapun untuk pengembangan cabai off season pada lokasi dengan tipologi iklim yang berbeda dari Jawa. Misalnya, NTB, NTT, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara.

 

Biji Botani Bawang

 

Salah satu upaya mendukung Proliga, Puslitbang Hortikultura sudah mengembangkan biji botani bawang merah (true shallot seed/TSS). Selama ini Hardiyanto mengakui, kelemahan umbi bibit bawang merah tidak bisa disimpan lama, sehingga petani sulit menyimpan benih.

 

Dengan adanya TSS, produktivitas bisa meningkatkan hasil umbi bawang merah sampai dua kali lipat dibandingkan dengan penggunaan benih umbi (produktivitas hingga 26 ton/ha). Keunggulan lainnya, bebas dari penyakit dan virus, kebutuhan benih TSS bawang merah lebih sedikit (2-3 kg/ha dengan harga Rp 1,2 juta/kg) dibandingkan dengan benih umbi (± 1-1,2 ton/ha dengan harga Rp 15-25 juta kg).

 

“Pengangkutannya juga lebih mudah dan daya simpan lebih lama dibanding umbi,” katanya. Bahkan lanjut dia, benih bawang asal biji masih dapat berkecambah meski disimpan selama 1-2 tahun. Sebaliknya benih bawang asal umbi bibit hanya dapat disimpan sekitar empat bulan dalam gudang.

 

“Salah satu varietas yang berpotensi sebagai sumber induk adalah Bima Brebes,” ujarnya. Namun Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) juga telah melepas varietas bawang merah yang berpotensi sebagai sumber induk TSS yaitu Katumi, Sembrani dan Trisula. Benih asal TSS dapat digunakan sebagai benih sumber untuk bahan perbanyakan benih sebar bermutu (umbi mini/bibit).

 

Menurut Hardiyanto, pengembangan teknik produksi TSS lebih diarahkan ke agroekosistem lahan kering di dataran tinggi. Dataran tinggi (suhu 16-18oC) merupakan lokasi yang sesuai untuk meningkatkan pembungaan bawang merah. Karena itu TSS sebagai sumber benih akan lebih optimal dikembangkan di dataran tinggi. “Daerah tersebut diusahakan merupakan daerah yang tidak ada kabut karena bisa menghambat pembungaan dari biji botani,” tutur dia.

 

Hingga Tahun 2016, sudah ada daerah sentra biji botani bawang merah yang berpotensial yakni Kebun Percobaan (KP) Gurgur Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir. Khusus untuk Pulau Jawa, daerah Sumur Brantas, Jawa Timur dan Karanganyar, Jawa Tengah yang menjadi sentra potensi benih biji botani. “Target produksi untuk tahun ini adalah sebanyak 1,5 ton biji botani untuk bisa disemaikan dan ditanam seperti cabai,” ungkap Hardiyanto.

 

Hardiyanto mengakui, penggunaan biji botani untuk menjadi bawang merah yang dikenal masyarakat memang bukan perkara mudah bagi petani. Karena itu, BPTP dan Puslitbang Hortikultura akan terjun langsung dalam pendampingan petani. “Nanti kita akan melatih bagaimana cara menyemaikan, kemudian cara budidayanya setelah tanam hingga penanganan penyakitnya. Kesemuanya itu tergabung dalam Proliga (Program Lipat Ganda),” jelas Hardiyanto.

 

Enam Jurus Cabai

 

Bagaimana dengan Proliga Cabai? Hardiyanto menuturkan pengembangan cabai nasional melalui Program Lipat Ganda (Proliga) melalui enam jurus usaha tani, pengembangan budidaya off season, mekanisasi on farm, efisiensi penggunaan air saat musim kemarau hingga peranan dari Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)

 

Mengenai enam jurus usahatani cabai, Hardiyanto menuturkan, bahwa lahan yang untuk pertanaman harus terbebas dari sumber inokulum penyakit virus kuning. Dengan kata lain tidak memiliki riwayat pernah terjadi virus kuning. Saat persemaian pun harus dilakukan pengawasan bebas virus kuning. 

 

Untuk mengendalikan OPT atau memutus mata rantai, dianjurkan petani menanam terlebih dahulu jagung di satu bulan sebelum dan sesudah tanam. Selama masa tanam, tindakan preventif juga harus dilakukan untuk mencegah terjadinya virus kuning.

 

Sementara untuk mencegah terjadinya penyakit busuk buah antraknos (petek), Hardiyanto menyarankan membuat inducer pada area pertanaman. Tak hanya itu, pemupukan berimbang juga disarankan sesuai dengan kebutuhan tanaman.

 

“Khusus untuk musim kemarau, penggunaan sumber air menggunakan irigasi tetes bisa mengefisienkan penggunaan air. Biayanya pun terjangkau untuk bisa digunakan selama 5 tahun,” katanya. 

 

Untuk cabai off season, pertanaman dilakukan pada lokasi yang memiliki tipologi iklim yang berbeda dengan di Jawa. Dengan demikian, pertanaman bisa dilakukan pada wilayah NTB, NTT, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tenggara. Dalam mengelola lahan pertanaman, penggunaan mekanisasi pertanian juga menjadi penting sejak pengolahan lahan, aplikasi tanam, irigasi, perawatan tanaman hingga masa panen. Gsh/Yul

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Ahmad Soim

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162