Loading...

Raden Sumantri Petani Maju dengan Pola Pikir Mandiri

15:12 WIB | Monday, 13-January-2014 | Opini, Agri Wacana | Penulis : Nuraini Ekasari sinaga

Berkaca dari kemajuan dan kesejahteraan petani di luar negeri yang mengedepankan pemikiran mandiri, seharusnya petani Indonesia bisa mencapai hal yang sama. Karena itu petani jangan terlalu tergantung dengan bantuan dari pemerintah.

 

Ketua Kelompok Tani Kecamatan Hujan Mas dan Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahyang, Provinsi Bengkulu, Raden Sumantri mengatakan petani itu tidak jauh beda dengan pejuang, mereka mengupayakan pangan bagi masyarakat. Jadi tidak semestinya petani menunggu bekerja lebih keras setelah bantuan datang.

 

“Dulu saya pernah bekerja dengan perusahaan Jepang, Amerika dan Malaysia. Saya pernah menyaksikan di negara-negara maju tersebut, petani menanamkan pemikiran bagaimana caranya mandiri tanpa menunggu bantuan datang. Pola pikir semacam itu yang sebagian besar tidak dimiliki petani kita,” ujar pria yang memulai karir bertani tahun 1995.

 

Pemikiran semacam itu diterapkan Raden dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua di dua kelompok tani. Kegiatan kelompok ini dimulai pada tahun 2007 dengan mulai menanam komoditas unggulan Provinsi Bengkulu seperti, kakao, kopi, merica atau lada.

 

Raden mengakui, bekerja dengan pola pikir seperti itu tidaklah mudah karena dihadapkan berbagai kendala terutama dalam hal pendanaan. “Kami mendirikan kelompok tani ini sejak 14 Mei 2006 berlandaskan visi kemandirian tersebut. Kami melakukan segala kegiatan dan fasilitas secara swadaya tanpa mengharapkan bantuan dari pemerintah,” ujarnya yang saat ini menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani Genting Surian.

 

Menurut Raden dengan pola pikir seperti ini, petani otomatis akan bekerja lebih banyak ketimbang mengeluhkan segala kendala yang mereka hadapi. Jika petani diberikan bantuan terlebih dahulu, itu sama saja dengan ‘meninabobokan’ mereka. Begitu terlena dengan kemudahan, petani tidak ada rangsangan bergerak dan berpikir lebih maju. “Memang pertama sulit, namun saya selalu meyakinkan dan akhirnya banyak petani percaya dan kelompok ini berjalan sampai sekarang,” ujarnya.

 

 

 

Kendala Pasar

 

Raden mengakui, kendala yang pertama yang dihadapi kelompok tani adalah pasar. Selama ini hasil panen kopi tidak terlalu menguntungkan bagi petani. Setidaknya ada sekitar 1.013 hektar (ha) lahan yang berpotensi untuk budidaya kopi, tapi tidak cukup membawa keuntungan bagi petani dari sisi harga.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Julianto

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162