Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Raup Untung Bisnis Belatung

14:12 WIB | Monday, 02-July-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Raup Untung Bisnis Belatung

 

Mencapai performa memuaskan di tahap penelitian, aplikasi teknologi biokonversi oleh berbagai pihak terus dikembangkan menjadi usaha komersial dan sarana meraup untung. Usaha bisnis belatung lalat hitam Black Soldier Fly (BSF) pun kian banyak dilirik investor dalam dan luar negeri.

 

Usaha berbasis tek­nologi biokonversi akan menjadi global mega bisnis. Masa depannya sangat menjanjikan,” kata pengamat per­kebunan Soedjai Kartasasmita pada diskusi Prospek Bioindustri Belatung (Magot) dan Bioflok yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

 

Dipandu Menteri Pertanian era Pemerintahan Orde Baru, Sjarifuddin Baharsjah, dalam forum diskusi sehari itu pelaku usaha bisnis maggot, Agus Pakpahan mengemukakan, usaha pengembangbiakan lalat hitam dengan memanfaatkan bahan orga­nik berupa sampah rumah tangga merupakan salah satu bentuk dari aplikasi teknologi bio­konversi.

Kegiatan bio industri tersebut yang pasti ramah lingkungan, mendukung upaya peningkatan produksi pangan dan pakan (ternak), juga sarana penting terkait pengobatan dan kesehatan manusia dan ternak. “Lalat disini dipandang sebagai sumberdaya biologis, bukan lagi semata-mata sebagai hama. Karenanya banyak nilai tambah yang kita peroleh darinya,” tegas Agus.

Belatung sebagai output dari kegiatan pengembangbiakan lalat BSF selain bisa dijual apa adanya (saat ini harganya sekitar Rp 7.000/kg), juga bisa menjadi pakan ternak karena kandungan proteinnya tinggi. Selain itu belatung juga merupakan bahan baku utama pembuatan pupuk hayati cair untuk mendukung kegiatan pertanian organik.

 

Kendala di Lapangan 

Agus mengungkapkan, dirinya pernah mencobakan pakan magot ke ternak bebek. Hasilnya bebeknya bisa menghasilkan telur dengan berat sampai 150 gram, diatas rata-rata berat telur bebek umumnya yang hanya dikisaran 70 gram.

Dengan memberikan magot sebagai pakan sehari-hari ternak unggasnya Agus menyatakan tak perlu lagi menggunakan antibiotik untuk melindungi ternaknya dari serangan penyakit. “Itu berarti saya menghasilkan daging unggas dan telur yang seratus persen bebas antibiotik dan harganya lebih murah, karena harga pakannya bisa ditekan,” tuturnya.

Mengingat demikian banyak­nya manfaat dan keuntungan yang diperoleh dari kegiatan pengembangbiakan lalat hitam, saat ini setidaknya terdapat 4 perusahaan multinasional dan 1 yayasan yang tengah merintis menggeluti usaha tersebut dengan nilai investasi total sekitar 2 miliar dolar AS.

Bisnis memproduksi magot juga sudah lama berkembang di banyak negara dan mendapat dukungan pemerintah setempat. Salah satu alasannya, karena bisa menjadi solusi mengatasi persoalan menumpuknya sampah. 

Di Afrika Selatan, seperti dituturkan Soedjai, ada satu pabrik menghasilkan sampai 7 juta magot/hari. “Bahkan di Jerman ada perusahaan yang berhasil mengubah sampah plastik menjadi solar. Artinya teknologi biokonversi masa depannya memang luar biasa,” kata Soedjai. 

Meski merupakan usaha yang menjanjikan namun bisnis memproduksi belatung BSF ini bukannya tanpa kendala. Agus mengemukakan bahwa bahan baku berupa sampah organik rumah tangga memang banyak jumlahnya, tapi sulit mendapatkan. 

“Hingga kini masyarakat kita belum membudaya sejak awal memilah sampah organik dengan sampah an organik. Kalau yang dibutuhkan sampah an organik mungkin tidak sulit karena sudah ada pemulung yang rutin melakukannya,” ujar Agus. 

Teknologi biokonversi dalam pengembangbiakan lalat hitam dinilai Agus tak sulit dilaksanakan. Sebab, lalat hitam termasuk hewan yang cepat beranak-pinak di lingkungan beriklim tropis. Satu ekor lalat bisa menghasilkan telur 300-1.000 butir. 

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162