Loading...

Rumah Jagung Manusak Menjaga Tradisi Bernilai Ekonomi

14:03 WIB | Monday, 17-October-2016 | Teknologi, Inovasi Teknologi | Penulis : Kontributor

Rumah itu dindingnya sebagian terbuat dari papan dan sangat biasa saja. Namun setelah masuk ke dalam, lantai keramik yang bersih dan terpajang banyak produk-produk olahan jagung yang siap jual.  Tak lama kemudian menyapa seorang ibu bernama Sisilia Arthur Xiemenes,”Pak mari kita lihat ke bagian belakang!”. Ternyata, di bagian belakang rumah itu terdapat banyak mesin pengolah jagung yang siap merubah tradisi menjadi inovasi.

 

Ibu Sisilia begitu panggilan akrabnya adalah Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Bougenvil, Desa manusak, Kecamatan Kupang Timur . Kabupaten Kupang, NTT. Saat ini tokoh wanita tani berdarah Jawa itu tengah ‘getol’ mengembangkan Rumah Jagung yang dirancang oleh  Balai Besar Pasca Panen (BB Pasca Panen) dan BPTP NTT

 

Rumah itu adalah potret bagaiman inovasi hadir untuk melestarikan tradisi pangan rakyat, sekaligus merubah produk olahan itu bernilai ekonomi tinggi dan hygenis. Untuk melihat kiprah kolaborasi dua balai di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian itu, Jelajah Inovasi pekan lalu berkunjung ke desa itu. Jarak rumah jagung  dengan kota Kupang tidak terlalu jauh, hanya sekitar satu jam dari pusat kota.

 

Namun pemandangan yang khas di areal kering itu masih bisa menggambarkan sisa-sisa tanaman jagung yang telah dipanen dan  mengering. Hamparannya begitu luas dan sebagian besar masyarakatnya mengembangan tanaman itu untuk bahan pangan utama mereka. Maklum saja, jagung memang pangan pokok di sana.

 

Kendati jagung telah diolah secara turun-temurun, cara tradisional yang mereka gunakan memiliki banyak kelemahan. Sigit Nugraha, Peneliti BB Pasca panen yang menjadi teman  setia selama penjelahan ini menjelaskan masalah panen dan pascapanen jagung di tingkat petani antara lain  jagung tongkol setelah dikupas tidak dialasi, sehingga berpeluang terinfeksi cendawan/jamur.

 

“jumlah mesin pemipil dan pengering yang kurang menyebabkan penundaan proses pengeringan berkisar 2-10 hari pada saat puncak panen menurunkan mutu biji jagung, dan  penyimpanan sementara jagung tongkol di dalam karung dengan kadar air berkisar 25 – 35% sehingga berpeluang terinfeksi jamur Aspergilus flavus. Hal tersebut akan diikuti kerusakan secara biologi (akibat fermentasi) dan proses pembusukan yang pada akhirnya menyebabkan susut bobot” ujar Sigit menambahkan masalah itu.

 

Di samping dapat menyebabkan kerusakan dan susut bobot, Aspergilus flavus dapat memproduksi aflatoksin. Aflatoksin adalah senyawa beracun hasil metabolisme sekunder dari jamur Aspergillus flavus yang bersifat karsinogen.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162