Loading...

Saat Ikan Teri Asin Naik Kelas lewat WAKASIN

06:46 WIB | Tuesday, 03-July-2018 | Olahan Pasar | Penulis : Gesha

Saat ikan asin bisa naik kelas dengan pengolahan yang higienis

Pamor ikan asin memang kalah jika dibandingkan dengan ikan salmon atau ikan segar lainnya, padahal nilai gizinya pun tak kalah. Di tangan mahasiswa, ikan teri asin kini bisa naik kelas menjadi cemilan bergizi.

 

Hasil laut Indonesia sudah lama diolah oleh masyarakat menjadi beraneka ragam olahan, salah satunya adalah ikan teri asin. Olahan ini dibuat dengan melakukan proses penggaraman dan dijemur sehingga hasilnya adalah ikan yang awet dan terasa sangat asin.

 

Bagi masyarakat pesisir, mengkonsumsi ikan teri asin menjadi keseharian. Namun bagi kalangan menengah ke atas, pamor ikan asin kalah kelas dengan ikan salmon maupun ikan lainnya. Padahal, Ikan asin juga dipercaya memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan ikan segar.

 

Menurut penelitian, kandungan protein ikan segar per 100 gram sebesar 17% sedangkan kandungan protein ikan asin per 100 gram sebesar 42 %. Kandungan lemak ikan asin ternyata juga 1,50% lebih rendah daripada ikan segar yaitu sebesar 4,50%.

 

Sayangnya, kebaikan Ikan asin ini tidak terlalu dipandang sebab ikan asin masih dipandang sebagai makanan murahan yang tidak higienis dan tidak berkelas. “Memang diakui pengolahan ikan asin masih dilakukan dengan cara tradisional dan cenderung tidak higienis,” tutur mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, Fath Fadhilah Wardiwira.

 

Ia bersama ketiga temannya berinovasi menciptakan olahan baru untuk mengangkat citra dari ikan asin, tentu saja dengan keunggulan berupa higienitas dan nilai gizi . "Nama produk kami 'Wakasin' singkatan dari iwak asin dari bahasa Jawa yang artinya ikan asin," ungkapnya.

 

Mereka tidak main-main untuk menciptakan produk ikan asin yang naik kelas. Uji laboratorium dan menariknya kemasan jadi langkah mereka. "Ikan asin yang biasanya itu diolah secara kumuh dan tidak dikemas secara menarik. Oleh kerana ini kami buat ikan asin yang sehat, higienis dan kemasannya menarik," ucap Fadhilah.

 

Inovasi Rasa

 

Wakasin buatan mereka ini berbahan dasar teri nasi. Ikan tersebut mereka beli dari penjual ikan asin yang sudah dipercaya tidak menjual ikan berformalin. “Sebelum mengolahnya, kita uji formalin dulu dari ikannya. Setelah itu, ikan asin direndam dengan air panas bersuhu 80 derajat celcius untuk membunuh bakteri yang ada. Lalu dicuci dengan air mengalir agar kotorannya hilang,” ungkap Fadhilah.

 

Ikan teri yang mudah hancur ternyata bisa diakali dengan mendiamkannya selama 1-2 jam sebelum akhirnya digoreng. Mereka juga sangat memperhatikan higienitas dari plastik kemasan yang digunakan. “Biasanya kita tiriskan selama 2-3 jam setelah digoreng sebelum dimasukkan ke dalam plastik,” ceritanya.

 

Wakasin ini dikemas dengan menarik dan menggunakan plastik polyethylene yang aman untuk makanan. Agar nilai gizi tetap terjaga, wakasin juga menggunakan continuous band sealer sebagai penutupnya. Fadhilah pun mengkreasikan rasa pada ikan teri asin ini dengan dua rasa yakni balado dan barbeque. “Biar konsumen tidak bosan dengan rasa ikan yang memang hanya berasa asin saja,” tuturnya.

 

Campuran bumbunya juga alami, untuk balado menggunakan cabai yang diolah sendiri dan untuk barberque menggunakan bumbu olahan rumahan. “Semuanya kami jamin halal, higienis dan bernilai gizi,” tegasnya.

 

Produk Wakasin ini dijual dengan harga sekitar Rp 10.000, cukup murah untuk mendapatkan produk yang berkualitas. Produk ini juga telah diuji kandungan mikrobiologi, proksimat, dan formalin. Semua hasil uji menunjukkan hasil negatif, yang menandakan Wakasin aman dan sehat untuk dikonsumsi. (gsh)

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162