Loading...

Seperti Menjadi Guru

12:38 WIB | Wednesday, 19-July-2017 | Agri Wacana, Agri Wacana | Penulis : Kontributor

Oleh: Sjamsoe’oed Sadjad

 

Kata guru dalam bahasa Jawa berarti pengajar. Guru berdiri di depan muridnya, dia mengajarkan ilmu yang dia kuasai. Guru juga pendidik di samping pengajar. Karena itu dinamakan gu-ru. Gu dari kata bahasa Jawa gugu, dan kata ru dari tiru.

 

Dengan demikian, guru berarti seorang yang harus bisa digugu dan ditiru yang berarti harus bisa dipercaya (digugu) dan dicontoh (ditiru). Kalau seluruh bangsa ini bisa seperti menjadi guru meski tidak berposisi sebagai pengajar muridnya di muka kelas, tetapi menjadi manusia yang bisa digugu dan ditiru, Insya Allah, negeri ini akan menjadi negara besar yang damai dan sejahtera.

 

Dalam umur yang sudah lanjut demikian ini saya menjadi ingat akan guru-guru saya. Tidak semuanya tentu, seperti sewaktu di kelas empat SD saya ingat guru saya seorang wanita yang cukup galak tetapi baik mengajarnya. Sayapun pernah disuruh berdiri di muka kelas karena mengantuk. Juga saya ingat seorang guru saya di kelas dua SD seorang wanita yang sewaktu istirahat tertidur di kursi tinggi di kelas.

 

Sewaktu selesai istirahat murid-murid mau masuk kelas kembali terpaksa berdiri di depan pintu kelas karena melihat ibu gurunya masih tidur yang akhirnya terbangun juga karena kesal oleh berisiknya murid di depan pintu. Waktu itu masih di zaman Belanda.

 

Di zaman merdeka yang didahului oleh zaman Jepang, saya masih juga ingat pada guru saya di SMP yang mengajar mata ajaran menggambar. Beliau seorang yang sudah sepuh dan juga terkenal di kalangan murid cukup galak. Beliau berpakaian adat Jawa, suaranya keras tetapi sangat menyayangi saya, karena saya memang murid yang pintar menggambar. Teman saya yang kebetulan tidak taat terhadap apa yang disuruh beliau diperintahkan membersihkan jendela kaca. Dasar anak bandel, malah tertawa-tawa nongkrong lama-lama di jendela sambil mengejek teman-teman.

 

Begitu di SMA saya juga mempunyai kenangan baik dengan guru gambar saya. Beliau memuji hasil menggambar saya dan pernah saya berikan lukisan cat air saya yang melukis gedung proklamasi di jalan Pegangsaan Timur, karena kebetulan saya waktu itu tinggal bersama kakak ipar saya yang rumah dinasnya berhadapan dengan gedung itu. Hubungan baik saya dengan Engku Guru Gambar itu juga mengingatkan saya yang cukup nakal dan membolos keluar melalui pintu kelas gambar yang kebetulan berada langsung keluar ke jalan dan saya bisa pulang sebelum sekolah usai.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162