Loading...

Setelah Vakum 14 Tahun, Ayam Olahan RI Masuk Pasar Ekspor

13:42 WIB | Monday, 20-March-2017 | Olahan Pasar, Non Komoditi | Penulis : Tiara Dianing Tyas

staf ahli menteri pertanian, mat syukur (memegang kendi) saat pelepasan ekspor produk ayam olahan milik PT. CPI

Produk ayam olahan Indonesia kembali masuk pasar ekspor setelah vakum sejak 2003 saat di dalam negeri merebak  wabah  flu burung (Avian Influensa). Meski relatif masih kecil volumenya, sebanyak 5.999,25 kg dalam 1.000 karton milik PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) akan dikirim ke Papua Nugini.

 

Ekspor dilepas Staf Ahli Menteri Pertanian, Mat Syukur secara resmi beberapa waktu lalu. Produk olahan tersebut dalam bentuk daging ayam olahan (nugget, sosis dan bakso) yang melalui proses pemanasan lebih dari 70°C selama lebih 1 menit. Nilai ekspor sebesar 40 ribu dolar AS.

 

Mat Syukur mengatakan, setelah Indonesia sempat terjadi wabah flu  burung, ekspor produk unggas memang tak mudah. Untuk bisa ekspor produk ayam tersebut harus berasal dari peternakan yang telah mendapatkan sertifikat kompartemen bebas penyakit flu burung dari Kementerian Pertanian cq Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH). “Selain itu juga harus mendapatkan dukungan jaminan keamanan pangan berupa Sertifikat Veteriner dari Ditjen PKH,” katanya.

 

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH, Fadjar Sumping mengatakan, PT Charoen Pokphand telah memperoleh sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) sebagai bentuk penjaminan pemerintah terhadap keamanan produk hewan. Sertifikasi ini menjadi keharusan tiap unit usaha yang akan mengekspor produk hewan.

 

Sementara itu Direktur Utama PT CPI, Hadi Gunawan mengakui, pihaknya sejak 2003 tidak lagi bisa mengekspor karena persoalan flu burung. “Kini kami dapat kesempatan ekspor ke Papua Nugini meskipun masih kecil kuantitasnya, tapi ini adalah lilin kecil yang suatu hari bisa membakar semangat kami semua untuk mengambangkan ke negara-negara lain,” ujar Hadi.

 

Dia berharap, dengan adanya ekspor ini, produk olahan Indonesia bisa masuk ke negara lain. Apalagi setelah 14 tahun menunggu, kini ada kesempatan kembali untuk ekspor. “Pemerintah Jepang juga telah memberikan sinyal kepada usaha pengolahan daging ayam di Indonesia untuk merealisasikan ekspor daging ayam olahan ke negeri Sakura itu,” katanya. 

 

Adapun unit usaha ayam olahan yang sudah mendapat sinyal dari Jepang antara lain PT Malindo Food Delight Plant Bekasi, PT So Good Food Plant Cikupa, PT Charoen Pokphand Plant Serang, dan PT Bellfood Plant Gunung Putri. 

 

Ke depan Hadi juga berharap, produk ayam olahan Indonesia  bisa menembus pasar Saudi Arabia. Apalagi banyak jemaah haji dan umroh asal Indonesia yang memerlukan produk yang halal. "Kendati demikian, masih ada sejumlah persyaratan yang harus dilalui mengingat Indonesia masih belum sepenuhnya bebas penyakit flu burung,” katanya. Tia

Editor : Ahmad Soim

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162