Loading...

Sinyal Kuat Swasembada Jagung Terwujud Pada 2017

20:23 WIB | Sunday, 16-July-2017 | Nasional | Penulis : Kontributor

Pada era Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, jagung sebagai salah satu komoditas pangan strategis nasional dijadikan program prioritas dan produksinya terus digenjot. Paramater produksi, konsumsi maupun ekspor-impor mengindikasikan adanya sinyal kuat swasembada jagung terwujud pada 2017.

 

Sinyal yang pertama terlihat dari produksi selama dua tahun terakhir naik tajam. Data BPS, produksi jagung 2016 sebesar 23,58 juta ton naik 20,22 persen dibandingkan tahun 2015 (19,61 juta ton) dan tahun 2017 angka ramalan sementara 26,03 juta ton naik10,39%. Peningkatan produksi selama dua tahun tersebut memberikan nilai tambah Rp 26 triliun.

 

Provinsi penyumbang jagung nasional adalah Jawa Timur dan Jawa Tengah dengan share 45 persen, serta 8 provinsi berturut-turut Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, NTT, Sulawesi Utara, Gorontalo, NTB dan Jawa Barat dengan share 41 persen.

 

Sinyal yang kedua dilihat kemampuan memenuhi kebutuhan jagung domestik. Produksi jagung ini dipastikan mencukupi kebutuhan untuk pakan ternak, konsumsi langsung, bahan baku industri makanan dan lainnya. Kebutuhan jagung untuk industri pakan ternak sekitar 8,5 juta ton per tahun dan kebutuhan pakan unggas rakyat 6,0 juta ton dapat dipenuhi dari jagung lokal, sehingga terlihat neraca jagung akan surplus lebih dari 3 juta ton.

 

Program peningkatan produksi jagung diikuti dengan kebijakan pengendalian impor. Hasilnya kebutuhan jagung domestik dipasok dari dalam negeri. Pada tahun 2016 total impor jagung turun 62 persen dan pada 2017 tidak impor jagung untuk pakan ternak.

 

Sinyal yang ketiga dilihat dari kinerja Import Dependency Ratio (IDR). Pada Januari-Mei 2017 rasio ketergantungan impor jagung menurun drastis dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Nilai IDR Januari-Mei 2017 sebesar 2,06 persen, menurun tajam dibandingkan Januari-Mei 2016 sebesar 6,84 persen. Bila dirinci untuk jagung segar, IDR tahun 2017 adalah 1,38 persen turun dari 2016 sebesar 6,10 persen. Untuk diketahui pada data BPS bulan Januari–Mei 2017 tidak ada impor jagung untuk pakan ternak. Pada periode tersebut total impor jagung 278 ribu ton turun 68,38 persen dari 2016 sebesar 881 ribu ton. Nilai ekonomi dari pengendalian impor pada Januari-Mei 2017 ini saja sudah berhasil menghemat devisa Rp 1,5 triliun.

 

Bila dilihat dari rasio kemampuan swasembada atau SSR (Self Sufficiency Ratio) total jagung (segar dan olahan) untuk bulan Januari-Mei 2017 meningkat menjadi 98% dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Demikian juga untuk jagung wujud segar. Berdasarkan nilai SSR diketahui bahwa 98% total kebutuhan nasional untuk jagung pipilan kering sudah dapat dipenuhi oleh produksi jagung lokal. Nilai IDR dan SSR ini menunjukkan kinerja komoditas jagung yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kinerja produksi.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162