Loading...

Smart Irrigation, Cocok Untuk Tebu Lahan Sub Optimal

15:51 WIB | Wednesday, 25-April-2018 | Teknologi, Iptek | Penulis : Gesha

Pertanaman komoditi pertanian kini semakin dikembangkan di lahan suboptimal, tak terkecuali dengan tebu. Guna mendukung pertanaman tebu, Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) menggulirkan Paket Smart Irrigation berupa alat dan teknologi irigasi lahan suboptimal.

 

Kepala BBP Mektan, Andi Nur Alamsyah menuturkan kunci pengelolaan lahan sub optimal adalah teknologi irigasi dan dibutuhkan teknologi yang smart (pintar). Salah satu contoh lahan sub optimal yang kini tengah dikembangkan oleh pemerintah adalah perkebunan tebu di Bombana, Sulawesi Tenggara. “Di sana, penggunaan air harus digunakan secara minimal karena sumber air yang susah ditemukan. Dibutuhkan teknologi irigasi yang bisa mengalirkan air secara efisien namun tetap bisa menghasilkan,” tuturnya.

 

Karenanya, BBP Mektan menggulirkan paket teknologi yang dikenal dengan nama Smart Irrigation yang terdiri dari alat tanam dan pemasang irigasi serta teknologi dripline yang menggunakan sistem irigasi bawah tanah (sub surface). “Kami sekalian membuat alat yang mengintegrasikan mesin tanam tebu dengan pemasangan dripline irigasi, sambil bertanam tebu bisa dipasang sistem irigasinya,” ungkapnya.

 

Smart irrigation yang terpasang di BBP Mektan menggunakan instalasi irigasi tetes yang dilengkapi dengan pengatur debit tetesan air, pengatur dosis pupuk, dan sensor kebutuhan air yang terintegrasi dikendalikan secara otomatis. “Tipe irigasi tetes yang digunakan adalah tipe sub surface, yaitu slang penetesnya (dripline) ditanam pada kedalaman 15 – 17 cm dari permukaan tanah,urai Agung.

 

Agung menuturkan sistem irigasi dripline tersebut dipasang bersamaan dengan bertanam tebu agar efisien tenaga kerja. Mekanisme kerjanya alat ini ditarik dengan traktor roda 4 sambil memasang driplinenya sekaligus bertanam tebu. "Bibit tebu sendiri ditanam 5 cm diatas dripline dan alsin dilengkapi dengan pembuka alur dan penutup alur sehingga dalam satu kali operasional bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus," papar Agung.

 

Dalam mengoperasikan alsintan ini, hanya perlu 2-3 operator saja di mana 1 orang sebagai operator traktor, 2 orang operator bibit. Alat ini mampu mengerjakan lahan seluas 2 ha dalam satu hari saja. Sehingga efisien dalam waktu dan tenaga kerja. Namun Agung menyarankan dalam penggunaan alsintan ini, kondisi tanah yang bisa digunakan adalah tanah berpasir. "Kalau tanah berpasir, mau hujan atau tidak, enggak masalah. Tapi kalau tanahnya berlempung tinggi, sebaiknya pengoperasian alat dilakukan saat kering," tuturnya.

 

Paket teknologi smart irrigation ini direncanakan mulai diperkenalkan pada masyarakat di tanggal 8 Mei 2018 mendatang dan diharapkan menjadi solusi teknologi irigasi pintar bagi pertanaman tebu di lahan sub optimal (gsh/lis/bbpmektan)

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162