Loading...

Sri Wijayanti Yusuf, Kalau Ada KP Gurgur, Mengapa ke Afrika Selatan?

10:11 WIB | Wednesday, 28-September-2016 | Teknologi, Klinik Teknologi | Penulis : Kontributor

Ibu Yanti, begitu panggilan akrabnya, sumringah ketika melihat begitu indah dan memuaskan biji botani bawang merah yang dipanen di KP Gurgur, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara. Sampai-sampai dia berkata,”mengapa harus kita datangkan dari Afrika Selatan biji botani ini, kalau ternyata kita sukses mengembangkan biji botani di kebun percobaan Gurgur ini”.

 

Ir. Sri Wijayanti Yusuf, M.Agr, Sc adalah Direktur Perbenihan Tanaman Hortikultura, Kementerian Pertanian. Ditengah rasa gembiranya, dia bercerita, acara panen biji botani ini adalah satau kebanggaan untuk BPTP Sumut, karena sudah ada 7 BPTP yang mencobanya dan 4 propinsi sudah berhasil panen. Namun dari 4 propinsi itu, KP Gurgur yang terbaik. Keberhasilan ini tentunya akan menjadi jawaban atas masalah bawang merah nasional.

 

“Betapa jauhnya perjalanan biji bawang merah itu. kita masih impor biji untuk beberapa varietas seperti Tuktuk dari Afrika Selatan”. Ujarnya menambahkan. 

 

Direktorat Perbenihan Hortikultura, katanya, telah memiliki peta jalan, di dalamnya telah ditargetkan bahwa pada tahun 2024 Indonesia sudah harus mampu menghasilkan benih biji bawang merah dari seluruh varietas yang dikembangkan oleh masyarakat.

 

Pada tahun 2024 nanti diharapkan kita sudah punya biji bawang merah dari varietas-varietas yang banyak dipakai oleh petani, misalnya Bima Brebes, Biru Lancor, Tajur, Batu Ijo. Saat ini kita punya lebih dari 20 varietas yang biasa dipakai petani.

 

Ibu Yanti sangat menyadari bahwa Badan Litbang memiiiki keterbatasan untuk mengkomersilkan biji botani bawang merah ini. Untuk itu, dia sengaja membawa produsen benih, karena biji ini harus segera diperbanyak untuk Indonesia.

 

Keterlibatan produsen benih ini  untuk mempercepat ketersediaan benih biji bawang merah. Kita ingin memutus mata rantai antara benih umbi dengan konsumsi, karena kalau harga bawang mahal pasti benih asal umbi juga mahal. Sementara harga bawang  hingga kini tak pernah turun, bahkan naik terus.

 

“Lingkaran setan untuk umbi benih harus diiputus dengan biji. Jadi kalau tersedia biji yang cukup, tidak ada lagi kaitan antara harga benih umbi dan harga umbi konsumsi. Keberhasilan ini tentunya peluang penyediaan benih biji dengan harga lebih murah dengan kualitas yang baik sehingga produktivitas kita lebih tinggi, sehingga bawang kita bisa rendah. Artinya kita mampu bersaing dengan negara lain dan kita bisa ekspor” katanya. Lis

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162